Saat senja mulai turun, empat anak—Zyan, Ecan, Shanum, dan Shera—menyadari bahwa mereka tersesat di hutan yang asing. Pepohonan tinggi menjulang dengan bayangan yang membuat suasana terasa sunyi dan sedikit menegangkan. Zyan yang berdiri paling depan mencoba tetap tenang, meski dalam hatinya penuh tanya. “Jalan pulang… hilang?” gumamnya pelan, membuat yang lain saling berpandangan dengan cemas.
Namun, ketakutan mereka perlahan berubah menjadi rasa penasaran ketika hutan itu mulai memancarkan cahaya lembut. Tanaman-tanaman di sekitar mereka bersinar seperti permata hidup, berkilauan dalam berbagai warna. Shanum menunjuk dengan mata berbinar, sementara Shera mendekat dengan kagum. Ecan, yang awalnya ragu, akhirnya ikut melangkah maju, mengikuti cahaya yang terasa seperti petunjuk.
Perjalanan mereka membawa ke sebuah sungai yang luar biasa—airnya berkilau seperti langit penuh bintang. Batu-batu di atas permukaan air tersusun seperti jalan alami. Dengan hati-hati, mereka menyeberang bersama, saling menggenggam agar tidak terpisah. “Hati-hati, airnya terasa… hidup,” ujar Shanum, merasakan getaran aneh namun menenangkan dari sungai itu.
Di seberang, mereka bertemu dengan pohon besar yang tampak seperti penjaga hutan. Wajahnya hidup, matanya bersinar bijak. Dengan suara dalam dan tenang, pohon itu berkata bahwa keberanian mereka telah membuka jalan. Cahaya yang mereka temukan bukan sekadar keindahan, tetapi petunjuk bagi hati yang berani. Perlahan, sebuah pintu terbuka di batang pohon, menunjukkan arah pulang—dan keempat anak itu melangkah dengan perasaan baru: tidak hanya menemukan jalan, tetapi juga keberanian dalam diri mereka sendiri.
0 Comments