Fase 1 — Sinopsis (Malam Pembantaian)

Pintu itu terbuka… dan hidup Arman berhenti di ambang langkahnya sendiri.

Hujan menghantam atap seperti ribuan pukulan yang tak henti. Petir menyambar, menerangi ruang tengah dalam kilatan singkat—cukup untuk memperlihatkan sesuatu yang tak seharusnya dilihat manusia.

Bau logam yang pekat memenuhi udara.
Sunyi. Terlalu sunyi.

“Sa…ri?”

Tak ada jawaban.

Satu langkah masuk.
Lantai terasa lengket.
Langkah kedua—ia sadar itu bukan air.

Kilatan cahaya berikutnya membuka kenyataan yang tak bisa ditutup lagi.

Tubuh Sari tergeletak tak berdaya, wajahnya membeku dalam ketakutan yang belum sempat selesai. Di dekatnya, Dika kecil… diam, terlalu diam, seolah waktu berhenti tepat saat ia memanggil ayahnya—atau mungkin mencoba.

Namun yang membuat Arman tidak lagi bernapas… bukan hanya itu.

Ada sesuatu di ruangan itu.

Sosok hitam berdiri di sudut, bukan bayangan biasa—ia bergerak, berdenyut, seolah hidup dalam kegelapan itu sendiri. Tidak memiliki bentuk tetap, tapi jelas… sedang melihat balik.

Dan di lantai, dua manusia berlutut. Bibir mereka bergetar membaca sesuatu yang tidak dimengerti. Tangan mereka gemetar, bukan karena takut—tetapi karena takjub.

Seolah mereka baru saja… berhasil.

Arman tidak menjerit.

Tidak langsung.

Karena pada detik itu, sesuatu yang lebih dalam terjadi—lebih sunyi, lebih berbahaya.

Ia melihat Dika.
Tangannya kecil, masih menggenggam sesuatu.

Mainan kayu yang tadi pagi ia pegang sambil tertawa.

Suara itu kembali dalam ingatannya—
“Yah, nanti kita main lagi ya?”

Janji yang tidak sempat ditepati.

Dan di situlah… sesuatu dalam diri Arman patah. Bukan sekadar hati.

Melainkan batas antara manusia… dan sesuatu yang lain.

Salah satu pemuja itu menoleh.
Tersenyum.

“Kau terlambat.”

Sosok hitam itu bergerak perlahan, mendekat… seolah ingin memastikan Arman melihat semuanya. Mengingat semuanya.

Bukan untuk membunuhnya.

Tapi untuk meninggalkannya hidup… dengan alasan.

Dan saat itu Arman mengerti—
Ini bukan kebetulan.
Ini bukan sekadar pembunuhan.

Ini adalah persembahan.
Dan keluarganya… adalah bagian dari ritual itu.

Petir menyambar lagi.

Untuk sesaat, mata Arman bertemu dengan kegelapan itu.

Dan entah kenapa—
ia merasa sesuatu di dalam dirinya… dibangunkan.

Bukan rasa takut.
Bukan kesedihan.

Melainkan sesuatu yang jauh lebih dingin.

Lebih tajam.

Lebih abadi.

Dendam.

Dan sejak malam itu—
Arman tidak lagi ingin hidup.

Ia hanya ingin satu hal:

Membuat sesuatu yang bahkan tidak punya rasa takut…
belajar apa arti kehilangan.