Fase 2 - Yang Baru Datang Lebih Menarik
Sore itu, suasana jalan berubah drastis. Bukan di depan gerobak Pak Darso, tapi di seberangnya. Lampu-lampu hangat mulai menyala, papan nama besar bertuliskan “Es Kelapa Segar by Bagas” terlihat mencolok. Musik pelan terdengar, kursi tertata rapi, dan antrean mengular dipenuhi anak muda yang sibuk berfoto sebelum minum.
“Bukan lebih enak… tapi lebih dilihat,” gumam Bu Siti lirih, matanya tak lepas dari keramaian itu.
Pak Darso hanya diam. Tangannya tetap membelah kelapa, tapi kali ini terasa lebih berat dari biasanya.
Seorang pelanggan lama yang biasanya singgah, hari itu hanya melambatkan motor. Ia melirik sebentar, tersenyum canggung.
“Maaf, Pak… anak-anak maunya ke sana,” katanya pelan, lalu melaju pergi.
Pak Darso mengangguk kecil, berusaha terlihat biasa saja.
“Iyo, nggak apa-apa,” jawabnya singkat.
Namun setelah itu, ia menunduk. Pisau di tangannya berhenti lebih lama dari biasanya.
Satu jam berlalu. Gelas plastik masih tersusun rapi—terlalu rapi karena tak terpakai. Es di dalam termos mulai mencair, airnya menetes pelan ke bawah. Bu Siti menghitung uang hasil jualan hari itu, lalu berhenti.
“Pak…” suaranya bergetar, “ini… bahkan nggak cukup buat beli kelapa besok.”
Pak Darso tidak langsung menjawab. Ia hanya mengelus dadanya perlahan, menarik napas panjang, lalu menatap ke seberang lagi. Antrean itu… justru semakin panjang.
Untuk pertama kalinya, wajah Pak Darso tidak lagi keras—tapi kosong.
Ia berdiri, melangkah sedikit ke depan gerobak, mencoba melihat lebih jelas.
Matanya menyipit, bukan karena silau lampu… tapi karena sesuatu yang mengganjal di dalam dirinya.
Lalu tiba-tiba—
di tengah keramaian itu, seseorang menoleh ke arahnya.
Seorang pemuda.
Menatap lurus ke Pak Darso… seolah sudah mengenalnya sejak lama.
0 Comments