Kuliah Lapangan di Era Efisiensi: Belajar atau Sekadar Formalitas?

 21042026/Tanjungpati;

Ada yang menarik—atau mungkin lebih tepatnya, menggelitik—dari semester ini. Surat edaran tentang efisiensi kembali hadir. Tentu, efisiensi terdengar rasional. Siapa juga yang ingin boros? Tapi seperti biasa, yang jadi pertanyaan bukan sekadar apa kebijakannya, melainkan bagaimana dampaknya di lapangan.

Dan ya, kali ini yang ikut “disederhanakan” adalah kuliah kerja lapangan.

Mahasiswa tetap diminta turun ke lapangan. Tapi dengan satu catatan kecil: cukup di dalam kabupaten/kota saja.

Kecil, tapi dampaknya tidak kecil.



Kuliah Kerja Lapangan 2025 Padang Pariaman

Ketika “Lapangan” Dipersempit

Kalau kita bicara pertanian, kita bicara realitas. Bukan sekadar teori di kelas ber-AC (walaupun ac dikampus banyak yang rusak), bukan simulasi di layar, tapi interaksi langsung dengan tanah, air, cuaca, dan manusia yang hidup dari situ.

Mahasiswa—terutama vokasional terapan—tidak cukup hanya tahu. Mereka harus pernah. Pernah berdiri di bawah matahari, pernah berhadapan dengan kondisi lahan yang tidak ideal, pernah melihat praktik yang tidak selalu sesuai buku.

Masalahnya, ketika ruang gerak dipersempit menjadi sekadar “dalam kabupaten/kota”, variasi pengalaman ikut menyempit. Tidak semua wilayah punya spektrum objek yang lengkap. Tidak semua tempat bisa mewakili kompleksitas dunia pertanian yang sebenarnya.

Jadi, yang dikejar itu apa? Kehadiran kegiatan, atau kualitas pembelajaran?

Dosen: Antara Kreatif dan Terpaksa Kreatif

Di titik ini, dosen berada di posisi yang… menarik.

Di satu sisi, dituntut tetap mencapai capaian pembelajaran, di sisi lain, ruangnya dibatasi. Maka lahirlah satu kompetensi baru: memutar otak tingkat lanjut.

Mencari lokasi alternatif. Menyusun ulang skenario pembelajaran. Menghubungi relasi lama. Membuka jaringan baru. Kadang, bukan lagi soal ideal atau tidak, tapi soal “yang penting bisa jalan”.

Kreatif? Iya.
Terpaksa? Juga iya.

Efisiensi yang Tidak Pernah Netral

Efisiensi sering dibungkus sebagai sesuatu yang teknis dan netral. Padahal, dalam praktiknya, ia selalu punya konsekuensi.

Ketika biaya ditekan, biasanya ruang pengalaman juga ikut tertekan. Ketika mobilitas dibatasi, paparan terhadap keragaman ikut berkurang. Dan dalam konteks pendidikan, itu berarti satu hal: penyempitan perspektif.

Apakah pembelajaran masih bisa berlangsung? Tentu.
Apakah kualitasnya sama? Belum tentu.

Antara Keterbatasan dan Peluang Lokal

Di tengah kondisi ini, ada satu narasi yang sering muncul: “ini kesempatan untuk menguatkan potensi lokal.”

Tidak sepenuhnya salah.

Justru di sinilah kampus sebenarnya punya PR lama yang akhirnya dipaksa untuk diselesaikan: membangun relasi yang serius dengan lingkungan sekitar. Bukan sekadar datang saat butuh, tapi menjadi bagian dari ekosistem.

Petani lokal, pelaku usaha, kelompok tani, hingga pemerintah daerah—semuanya bisa menjadi laboratorium hidup, jika dikelola dengan sungguh-sungguh.

Masalahnya, membangun relasi itu tidak bisa instan. Ia butuh waktu, konsistensi, dan kepercayaan. Sesuatu yang tidak bisa tiba-tiba “diaktifkan” hanya karena ada surat edaran.

Jadi, Ini Tentang Apa?

Pada akhirnya, kuliah lapangan di era efisiensi ini seperti berada di persimpangan:

  • Mau tetap ideal, tapi terbentur kebijakan
  • Mau realistis, tapi berisiko menurunkan kualitas

Dan di tengah itu semua, mahasiswa tetap berjalan. Kadang dengan pengalaman yang utuh, kadang dengan versi yang… disederhanakan.

Mungkin ini saatnya kita jujur: apakah kuliah lapangan masih menjadi ruang pembentukan kompetensi, atau perlahan berubah menjadi sekadar agenda yang harus terlaksana?

Karena kalau jawabannya yang kedua, maka yang hilang bukan hanya perjalanan ke luar daerah—tapi esensi dari pembelajaran itu sendiri.


                                                    Kuliah Kerja Lapangan 2024 Manggilang

Post a Comment

0 Comments