Wisata Seribu Janjang yang Menantang, Namun Kebijakan Belum Mengajak Kita Berjalan

10042026/Bukittinggi;

Perjalanan saya ke Objek Wisata Seribu Janjang, sebuah destinasi di kaki , menjadi pengalaman yang tidak sekadar rekreasi, tetapi juga refleksi. Untuk mencapai titik atas, pengunjung harus menapaki sekitar seribu anak tangga yang menanjak, tidak selalu rata, dan cukup menguras tenaga. Di beberapa titik, napas terasa berat, kaki mulai melambat, dan keinginan untuk berhenti semakin kuat. Namun, di balik kelelahan itu, tersimpan pemandangan yang menenangkan dan rasa puas yang tidak tergantikan. Tempat ini hidup, ramai oleh pengunjung, sekaligus menyuguhkan tantangan fisik yang nyata.

Ramainya Seribu Janjang justru membuka pertanyaan yang lebih dalam: jika tempat menantang seperti ini tetap diminati, mengapa kebiasaan berjalan kaki dalam kehidupan sehari-hari justru semakin ditinggalkan? Dalam beberapa tahun terakhir, terlihat jelas bahwa masyarakat cenderung menghindari aktivitas berjalan, bahkan untuk jarak dekat. Preferensi terhadap kendaraan pribadi menjadi pilihan utama, bukan lagi sekadar kebutuhan. Pola ini tidak hanya mencerminkan perubahan gaya hidup, tetapi juga membentuk karakter mobilitas yang semakin pasif.

Jika ditelusuri lebih jauh, kebiasaan berjalan kaki di Indonesia mengalami penurunan, terutama pada kelompok usia muda. Aktivitas ini kini lebih banyak dilakukan oleh kelompok usia lanjut atau masyarakat tertentu yang masih mempertahankan pola hidup aktif. Sementara itu, generasi muda tumbuh dalam lingkungan serba instan, dengan akses kendaraan yang mudah. Tidak sedikit anak usia sekolah yang sudah menggunakan sepeda motor sebelum waktunya. Secara perlahan, budaya berjalan kaki yang dulu menjadi bagian dari keseharian mulai tergeser.

Kondisi ini tidak dapat dilepaskan dari arah kebijakan pembangunan yang lebih memfasilitasi kendaraan pribadi dibandingkan memperkuat transportasi umum dan infrastruktur pejalan kaki. Subsidi, kemudahan kepemilikan kendaraan, serta orientasi pembangunan jalan mempercepat ketergantungan masyarakat. Dampaknya tidak hanya pada kepadatan lalu lintas, tetapi juga pada kesehatan. Minimnya aktivitas fisik berkontribusi pada meningkatnya penyakit tidak menular di usia muda, yang pada akhirnya membebani sistem pembiayaan kesehatan nasional.

Jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya, perbedaannya cukup mencolok. Nenek moyang kita terbiasa berjalan kaki di medan yang tidak mudah, termasuk di kawasan pegunungan sekitar Singgalang. Ketahanan fisik mereka lebih kuat, dan kualitas hidup cenderung lebih baik. Karena itu, pengalaman di Seribu Janjang tidak sekadar wisata, tetapi pengingat bahwa kekuatan masyarakat pernah dibangun dari kebiasaan sederhana: bergerak, berjalan, dan mandiri. Ke depan, perubahan membutuhkan dua arah sekaligus—kesadaran individu dan keberpihakan kebijakan pada transportasi publik, ruang pejalan kaki, serta pembiasaan hidup aktif sejak usia dini.


Post a Comment

0 Comments