Pak Darso duduk sendiri di depan gerobaknya malam itu. Jalan yang dulu terasa sunyi kini justru ramai oleh suara motor, tawa pelanggan, dan denting sendok dari gelas-gelas es kelapa yang terus terjual. Lampu kecil di atas gerobak bergoyang pelan tertiup angin malam. Di meja kayu dekat kasir, surat itu masih terbuka. Sudut kertasnya sedikit basah terkena tetesan air gelas… atau mungkin sesuatu yang lain.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Pak Darso tidak tahu harus marah kepada siapa.

Ia ingin kecewa.
Ingin merasa dibohongi.
Ingin menganggap semua itu hanya sandiwara.

Tapi setiap kali mencoba marah, yang muncul justru bayangan-bayangan kecil yang tak bisa ia lupakan.

Arga—atau Bagas—yang diam-diam mengganti air es tanpa diminta.
Yang tidur di gubuk sempit belakang gerobak tanpa pernah mengeluh.
Yang ikut kehujanan saat gerobak bocor.
Yang makan mi rebus bersama mereka sambil duduk lesehan di trotoar.
Yang selalu pulang paling akhir setelah memastikan semua kursi masuk.

Tidak ada tatapan merendahkan selama tujuh bulan itu.
Tidak pernah ada sikap seperti orang kaya yang sedang “bermain” menjadi miskin.

Yang ada justru seseorang…
yang terlihat sangat lelah.

Pak Darso menatap ke seberang jalan. Kedai besar “Es Kelapa Segar by Bagas” masih ramai seperti biasa. Tapi malam itu rasanya berbeda. Tidak lagi terasa seperti ancaman.

Pelan-pelan ia mulai sadar.

Mungkin selama ini ia salah memahami persaingan.
Ia mengira dunia sedang merebut pelanggannya.
Padahal dunia hanya berubah lebih dulu darinya.

Dan orang yang paling ia benci diam-diam… justru orang yang paling percaya bahwa dirinya masih bisa bangkit.

Bu Siti keluar membawa dua gelas es kelapa. Satu diberikan ke Pak Darso, satu lagi diletakkan di kursi kosong sebelahnya—kursi yang biasa ditempati Arga saat malam mulai sepi.

“Pak…” ucap Bu Siti lirih, “sampeyan kangen ya?”
(Pak… sampeyan kangen ya?)

Pak Darso tersenyum kecil. Tipis sekali.

“Wong apik biasanya memang nggak lama mampir.”
(Orang baik biasanya memang tidak lama singgah.)

Ia lalu menatap kursi kosong itu cukup lama.

Dan untuk pertama kalinya sejak Arga pergi…
Pak Darso tidak lagi bertanya siapa dia sebenarnya.

Karena yang paling penting baginya sekarang bukan nama itu.

Melainkan kenyataan bahwa pernah ada seseorang…
yang datang saat hidupnya hampir runtuh,
lalu pergi diam-diam setelah memastikan ia bisa berdiri sendiri lagi.