Pagi itu terasa biasa saja. Tidak ada pertanda apa-apa. Setelah subuh, saat masih duduk termenung dengan mata setengah sadar, Sabda tiba-tiba teringat sesuatu.
“Sepeda…”
Ia langsung menoleh ke arah teras rumah yang kosong. Dadanya sedikit sesak. Baru ia sadar, sepeda itu tertinggal di pelataran kampus sejak Kamis sore. Entah karena terlalu lelah, terlalu banyak pikiran, atau memang akhir-akhir ini kepalanya terasa penuh oleh hal-hal yang sulit dijelaskan.
Tanpa banyak bicara, Sabda segera bersiap. Jaket seadanya dipakai, kunci motor diambil, lalu mesin dinyalakan dalam dinginnya pagi yang bahkan belum benar-benar terang. Jalan masih lengang. Lampu jalan sebagian mulai redup. Udara subuh menusuk lebih dalam dari biasanya.
Sesampainya di kampus, pelataran itu tampak sepi. Motor diparkir, lalu matanya langsung mencari ke sudut tempat biasa mahasiswa menaruh kendaraan. Dan di sana, sepeda itu masih berdiri sendiri.
Basah.
Joknya dipenuhi embun dingin. Rantai dan setangnya terlihat kusam diterpa udara malam. Tidak ada yang menyentuhnya selama berhari-hari. Sabda berdiri beberapa detik menatap sepeda itu tanpa bergerak.
“Aneh… bisa lupa begini,” gumamnya pelan.
Namun entah kenapa, yang terasa bukan sekadar rasa lupa. Ada sesuatu yang lebih mengganggu. Sepeda itu seperti gambaran dirinya sendiri: tertinggal, diam, dan dibiarkan terlalu lama di tempat yang ramai tetapi tetap terasa sepi.
Sabda menghela napas panjang, lalu menukar motornya dengan sepeda dan mulai mengayuh pulang. Jalanan subuh masih gelap. Sesekali hanya terdengar suara anjing jauh di ujung gang atau deru kendaraan yang melintas cepat. Tidak ada percakapan. Tidak ada musik. Hanya bunyi rantai sepeda dan suara napas yang terdengar makin berat.
Di tengah perjalanan, pikirannya mulai berisik.
“Sejak kapan rumah terasa seperti tempat singgah saja?”
Pertanyaan itu muncul tiba-tiba.
Ia mencoba mengusirnya dengan terus mengayuh, melewati jalan yang biasa dilewati setiap hari. Warung yang belum buka. Pohon-pohon yang diam. Kabut tipis yang menggantung rendah. Semuanya terasa akrab, tapi anehnya tidak lagi terasa dekat.
Sesampainya di rumah, suasana masih sama. Sepi.
Keluarganya masih tertidur. Istrinya sempat terbangun saat mendengar pintu dibuka, tetapi hanya menoleh sekilas tanpa berkata apa-apa sebelum kembali membalikkan badan. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada sambutan.
“Kok pagi-pagi keluar lagi?”
Tidak ada.
“Sudah sarapan?”
Tidak ada juga.
Sabda berdiri beberapa saat di ruang tengah, seperti orang asing yang baru datang ke rumah orang lain. Tangannya melepas jaket perlahan. Ada keinginan untuk bicara, tapi entah harus memulai dari mana.
Akhirnya ia memilih diam.
Halaman rumah dibersihkan. Pot bunga dirapikan. Sapu bergerak ke sana-sini hanya untuk membuat dirinya terlihat sibuk. Kadang memang lebih mudah membereskan daun kering dibanding membereskan isi kepala sendiri.
Namun semakin pagi, perasaan itu justru semakin hambar.
Sabda duduk sendiri di depan rumah menatap langit yang mulai terang. Orang-orang mulai beraktivitas. Tetangga menyapa satu sama lain. Suara kendaraan mulai ramai. Tapi sejak tadi, tidak ada satu pun percakapan berarti di rumah itu.
Tidak ada pertengkaran.
Namun juga tidak ada kehangatan.
Dan itu jauh lebih melelahkan.
Akhirnya Sabda berdiri pelan. Tangannya merogoh saku celana, lalu tersenyum kecil saat teringat sesuatu.
“Motor masih di kampus…”
Ia menatap jalan di depannya cukup lama sebelum akhirnya mulai melangkah pergi lagi.
Namun kali ini, entah kenapa, yang terasa seperti tertinggal bukan lagi sepeda atau motor. Ada sesuatu yang lain.
Dan Sabda mulai takut menyadari apa itu sebenarnya.

0 Comments