Ketika Sinyal Kehidupan Memaksa Saya Berdiri
Ada orang yang sejak kecil memang terlahir untuk tampil di depan. Suaranya lantang, percaya dirinya tinggi, dan ke mana-mana selalu terlihat menonjol. Saya bukan tipe itu.
Sejak sekolah, saya justru lebih nyaman berada di belakang layar. Jika ada kegiatan organisasi, saya bukan ketua. Saya bukan pusat perhatian. Saya lebih sering menjadi orang yang membantu diam-diam. Bagian desain, dokumentasi, angkut perlengkapan, menyiapkan hal teknis, memastikan semuanya berjalan baik. Kalau dunia ini sebuah game, mungkin saya hanyalah support system, karakter pendukung, atau istilah sekarang: NPC. Dan anehnya, saya menikmati posisi itu.
Bukan karena tidak punya kemampuan, mungkin lebih karena sejak kecil tidak benar-benar menemukan ruang untuk membangun kepercayaan diri sepenuhnya. Ada rasa takut tampil, takut salah, takut jadi pusat perhatian. Mungkin ada trauma yang tidak pernah benar-benar selesai. Maka ketika orang lain berlomba menjadi ketua, saya justru memilih mundur beberapa langkah.
Namun hidup rupanya punya cara sendiri untuk memanggil seseorang.
Dan panggilan itu datang berkali-kali.
Waktu di pesantren sebenarnya saya cukup berprestasi. Tapi tetap saja, hati ini memilih diam. Sampai suatu waktu ketika SMA, ada momentum yang masih membekas sampai sekarang. Saya diminta menjadi ketua sebuah opera. Awalnya menolak. Sangat menolak. Rasanya tidak nyaman berdiri di depan orang banyak, memimpin, mengambil keputusan. Tetapi entah bagaimana, seperti ada sinyal yang terus mendorong. Ada pertanda yang tidak bisa dijelaskan logika.
Akhirnya saya menerima amanah itu.
Dan ternyata pengalaman tersebut menjadi salah satu titik penting dalam hidup saya. Untuk pertama kalinya saya sadar bahwa kadang kita tidak dipanggil karena siap, tetapi karena memang harus siap.
Masuk kuliah S1, saya kembali menjadi orang biasa. Tidak terlalu menonjol. Tidak haus jabatan. Tetapi lagi-lagi hidup memberi sinyal. Saya mulai ikut kegiatan dosen, pengabdian masyarakat, turun langsung membantu masyarakat dan perlahan ditempatkan sebagai ujung tombak kegiatan. Sedikit demi sedikit mental itu dibentuk.
Lalu masuk S2.
Saya masih merasa hanya “orang belakang”. Membantu penelitian, membantu rekan-rekan menyelesaikan riset, mendukung dari sisi teknis dan kerja lapangan. Tetapi tanpa disadari, proses itu menempa diri. Alhamdulillah, kuliah S2 selesai dengan cepat. Namun setelah tamat, hidup kembali menguji.
Tidak ada pekerjaan tetap.
Mencari kerja sebagai lulusan S2 tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi ketika cita-cita terbesar adalah menjadi dosen. Saya sempat menjalani berbagai pekerjaan serabutan. Pernah diminta membantu usaha cabang distributor baja ringan. Awalnya hanya membantu biasa. Lagi-lagi posisi belakang layar.
Namun anehnya, amanah datang lagi.
Tiba-tiba saya dipercaya mengelola proses di CV tersebut. Dari orang yang hanya membantu, berubah menjadi orang yang harus memimpin jalannya pekerjaan. Lagi-lagi saya didorong keluar dari zona nyaman.
Sampai akhirnya Allah memberi jalan menjadi dosen.
Profesi yang sejak awal saya impikan.
Awalnya saya menjalani profesi ini dengan sederhana. Mengajar, membantu mahasiswa, mengembangkan kegiatan, menjalankan amanah sebaik mungkin. Saya masih merasa diri ini bukan siapa-siapa. Masih merasa lebih nyaman bekerja daripada bicara.
Tetapi akhir-akhir ini, sinyal itu datang semakin kuat.
Seolah kehidupan berkata: “Sudah cukup berdiri di belakang.”
Ketika hak mulai dipermainkan. Ketika marwah profesi dosen mulai terasa diinjak. Ketika ada ketidakadilan dan kezaliman yang muncul terang-terangan, hati ini tidak bisa lagi diam. Ada dorongan yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar emosi. Bukan sekadar ambisi pribadi.
Tetapi seperti panggilan.
Panggilan untuk berdiri di depan.
Jujur, ini posisi yang tidak nyaman bagi saya. Sangat tidak nyaman. Karena saya tahu, berdiri di depan berarti siap disorot, siap disalahkan, siap dimusuhi, bahkan siap kehilangan kenyamanan hidup. Tetapi mungkin memang ada fase dalam hidup ketika seseorang tidak lagi diberi pilihan untuk terus bersembunyi.
Di tahun-tahun ke depan mungkin akan penuh risiko. Akan ada tekanan, konflik, bahkan kemungkinan kehilangan banyak hal. Namun saya percaya, jika perjuangan ini diniatkan untuk mempertahankan hak, menjaga martabat profesi, dan melawan ketidakadilan, maka Tuhan tidak akan membiarkan langkah ini sendirian.
Saya bukan orang hebat.
Saya hanyalah pria biasa yang berkali-kali dipaksa keadaan untuk naik kelas.
Dari belakang layar menuju garis depan.
Dan mungkin inilah pertandanya: bahwa hidup tidak selalu meminta kita menjadi nyaman, tetapi meminta kita menjadi berani.
0 Comments