Menanam - Cara Memulihkan Diri


Ada masa ketika hari-hari terasa berjalan terlalu cepat. Pekerjaan, berbagai kegiatan, dan tumpukan pikiran seolah tidak pernah benar-benar memberi ruang untuk berhenti sejenak. Di tengah kesibukan itu, saya mencoba mencari cara sederhana untuk memulihkan diri. Bukan dengan pergi jauh atau mengambil jeda panjang, melainkan dengan menanam. Awalnya hanya beberapa polybag, pot dan ban besar dan gundukan sudut kecil di sekitar rumah. Jujur saja, tangan saya mungkin tidak terlalu banyak berperan dibandingkan istri yang lebih telaten menyiram, memberi pupuk, dan memperhatikan tanaman setiap hari. Namun sejak benih-benih itu mulai tumbuh, saya ikut merasakan kebahagiaan yang sulit dijelaskan.



Ada kepuasan tersendiri saat melihat tanaman berkembang dari hari ke hari. Cabe yang dulu hanya batang kecil kini dipenuhi buah yang menggantung lebat. Tomat ceri yang semula tampak rapuh perlahan tumbuh subur dan mulai memamerkan warna merahnya yang cerah. Setiap kali melihatnya, rasanya seperti mendapat pengingat bahwa pertumbuhan membutuhkan waktu, kesabaran, dan perhatian. Tanaman-tanaman itu tidak pernah terburu-buru, tetapi tetap bergerak maju. Mungkin karena itulah keberadaan mereka terasa menenangkan di tengah rutinitas yang sering kali menuntut segalanya berjalan cepat.

Meski demikian, harus saya akui bahwa semangat di awal tidak selalu bertahan sama kuatnya. Belakangan saya tidak lagi banyak terlibat dalam kegiatan merawat tanaman. Kesibukan kembali mengambil porsi waktu yang lebih besar, sementara istri tetap menjadi sosok yang paling konsisten menjaga kebun kecil kami. Namun setiap kali saya melihat deretan cabe yang lebat dan tomat ceri yang terus berbuah, saya merasa kebun kecil ini tetap menjalankan fungsinya: menjadi ruang pulang yang sederhana. Tempat mengingatkan bahwa memulihkan diri tidak selalu harus dengan langkah besar, kadang cukup dengan menyaksikan sesuatu tumbuh perlahan di depan mata.



Post a Comment

0 Comments