Membagi Ruang: Ketika Mulai Sesak oleh Kenangan

Saya lupa kapan terakhir kali mengotak-atik pengaturan WhatsApp. Tahu-tahu, ribuan bahkan mungkin puluhan ribu foto sudah memenuhi galeri HP. Sampai suatu ketika muncul notifikasi bahwa ruang penyimpanan hampir penuh.

Cukup kaget juga. Perasaan, saya tidak pernah menyimpan foto sebanyak itu. Kok bisa tiba-tiba menumpuk?

Seperti biasa, kalau ada persoalan teknis yang tidak saya pahami, YouTube menjadi tempat pertama untuk mencari jawaban. Entah kenapa, untuk urusan tutorial, saya lebih percaya berselancar di YouTube daripada mencoba-coba sendiri. Hehe.

Setelah menonton beberapa tutorial, akhirnya ketemu juga biang keroknya. Ternyata ada pengaturan WhatsApp yang membuat foto-foto dari percakapan ikut tersimpan di galeri. Masalahnya, foto-foto tersebut telanjur menumpuk. Mau tidak mau, saya harus mulai memilah satu per satu. Mana yang penting, mana yang sekadar numpang lewat, dan mana yang sebenarnya tidak perlu disimpan sama sekali.

Pekerjaan yang kelihatannya sepele, tetapi ternyata cukup menyita waktu.

Di tengah kegiatan menghapus foto itulah saya mulai berpikir tentang satu hal: bagaimana sebenarnya kita membagi ruang untuk menyimpan kenangan?

Dulu, foto mungkin hanya tersimpan dalam album keluarga. Dicetak, disusun, lalu sesekali dibuka kembali. Sekarang berbeda. Hampir setiap aktivitas bisa diabadikan. Pergi ke kebun, kegiatan kampus, bertemu teman, perjalanan keluarga, bahkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu istimewa pun sering kita foto.

Akibatnya, ruang penyimpanan semakin sesak. Bukan hanya oleh foto yang berharga, tetapi juga oleh tangkapan layar, gambar dari grup WhatsApp, foto kegiatan yang berulang, hingga berbagai kiriman yang mungkin tidak pernah kita lihat lagi.

Lantas, ke mana foto-foto yang memang ingin saya simpan?

Menariknya, saya justru tidak terlalu mengandalkan hard disk maupun Google Drive. Sebagian kenangan saya titipkan di LINE, sebuah aplikasi percakapan yang sudah cukup lama menemani perjalanan digital saya.

Kenapa LINE?

Sederhana saja. Foto-foto sejak saya tamat sekolah ternyata masih ada di sana. Di tengah silih bergantinya platform digital, mulai dari Friendster, BlackBerry Messenger, hingga berbagai aplikasi percakapan yang pernah populer, LINE masih bertahan dalam keseharian saya.

Ada semacam rasa percaya yang tumbuh karena kebiasaan. Ketika beberapa platform perlahan ditinggalkan penggunanya, LINE masih menjadi salah satu tempat saya menyimpan potongan-potongan masa lalu.

Bahkan, saya dan istri memiliki ruang percakapan khusus untuk menyimpan foto dan berbagai kenangan bersama. Semacam album keluarga digital yang tidak disusun terlalu rapi, tetapi menyimpan banyak cerita.

Kadang saya berpikir, mudah-mudahan aplikasi ini tidak ikut meredup dan menghilang suatu hari nanti. Sebab, terlalu banyak kenangan yang sudah kami titipkan di sana. Kalaupun suatu saat harus berpisah dengan platform tersebut, semoga masih sempat mengunduh seluruh isinya terlebih dahulu. Tentu lebih baik kalau mulai dicadangkan dari sekarang, daripada menunggu kabar penutupannya. Hehe.

Selain LINE, ada pula Instagram anak yang kami jadikan sebagai ruang penyimpanan cerita tumbuh kembangnya. Foto dan video kecil dari keseharian, tingkah lucu, perjalanan, dan berbagai momen keluarga kami kumpulkan di sana.

Akun tersebut memang dibuat privat. Bukan untuk konsumsi publik, bukan pula untuk mengejar pengikut atau sekadar membagikan aktivitas kepada orang lain. Lebih sebagai album digital yang suatu hari nanti bisa dibuka kembali.

Mungkin ketika anak sudah besar, kami bisa duduk bersama, membuka unggahan lama, lalu bercerita tentang masa-masa yang tidak lagi diingatnya.

Ternyata media sosial tidak melulu soal memperlihatkan kehidupan kepada orang lain. Dalam keluarga kecil kami, media sosial juga menjadi salah satu cara untuk membagi ruang, merawat ingatan, dan menyimpan jejak perjalanan hidup.

Meski demikian, saya juga sadar bahwa menitipkan kenangan kepada platform digital bukan tanpa risiko. Aplikasi bisa berubah, layanan bisa ditutup, akun bisa bermasalah, dan data yang kita anggap aman belum tentu akan selalu tersedia. Jadi, barangkali sudah saatnya mulai lebih serius memikirkan tempat penyimpanan cadangan.

Kembali ke urusan galeri HP tadi.

Sejauh ini, baru sekitar seribu foto yang berhasil saya hapus. Itu pun setelah cukup lama memilah. Ada foto yang langsung dibuang tanpa pikir panjang, tetapi ada pula yang membuat saya berhenti sejenak. Bukan karena kualitas gambarnya bagus, melainkan karena ada cerita di baliknya.

Lucu juga. Kadang sebuah foto yang buram justru lebih berharga daripada puluhan foto yang diambil dengan kamera bagus. Sebab, nilai sebuah foto tidak selalu terletak pada ketajamannya, tetapi pada kenangan yang melekat di dalamnya.

Saya mulai menyadari bahwa membersihkan galeri bukan sekadar membebaskan kapasitas penyimpanan. Ada proses memilih, menentukan apa yang layak dipertahankan, dan merelakan hal-hal yang sebenarnya tidak lagi diperlukan.

Barangkali begitu juga dengan kehidupan. Tidak semua hal harus terus kita simpan. Ada yang cukup dikenang, ada yang perlu dirawat, dan ada pula yang sebaiknya dilepaskan agar tersedia ruang untuk pengalaman baru.

Sekarang pekerjaan rumahnya masih panjang. Ribuan foto lain menunggu untuk dipilah, sementara foto-foto penting perlu dipindahkan dan dicadangkan ke tempat yang lebih aman.

Entah berapa lama prosesnya. Yang jelas, saya harus mulai lebih disiplin mengelola ruang digital sendiri.

Doakan saja semoga konsisten. Jangan sampai niat membersihkan galeri malah berakhir dengan berjam-jam melihat foto lama, bernostalgia, lalu lupa tujuan awalnya. 😅

Sebab, ternyata yang paling sulit bukan sekadar mencari ruang penyimpanan, melainkan menentukan kenangan mana yang ingin terus kita bawa.

Post a Comment

0 Comments