Dosen - Menggores Tinta, Merawat Cita-cita (Prolog)

Menggores Tinta, Merawat Cita-cita
Padang, 23 April 2026 – Firman

Satu hal yang selalu saya syukuri dalam hidup ini sering datang diam-diam di sela rutinitas: saat menyusun materi, memeriksa lembar ujian, mengawasi kelas, hingga sekadar menulis di atas kertas. Di momen-momen sederhana itu, terlintas satu kalimat yang terasa jujur: dreams come true. Menjadi dosen bukan sekadar pekerjaan, melainkan ruang untuk hidup dalam cita-cita yang pernah saya rawat dengan diam. Bagi orang lain, mungkin ini terdengar biasa. Namun bagi saya, ini adalah sesuatu yang dulu hanya berani saya titipkan dalam doa—terasa jauh, bahkan di luar jangkauan.

Menariknya, mimpi itu tidak lahir sejak kecil. Ia tumbuh ketika saya sudah cukup dewasa, saat menjalani bangku kuliah. Perlahan, melalui peran sebagai asisten dosen, keterlibatan dalam organisasi, dan keaktifan di kampus, saya mulai melihat arah. Meski tidak selalu mudah—bahkan ada fase ketika kuliah terasa sangat panjang dan melelahkan—proses itu justru membentuk keyakinan yang tidak tergantikan.

Puncaknya datang pada tahun 2022, ketika saya dinyatakan lulus. Ada harapan yang tidak hanya saya bawa sendiri, tetapi juga titipan keluarga yang diam-diam menggantungkan mimpi pada perjalanan saya. Saat itu, rasa syukur tidak hanya menjadi kata, tetapi menjadi pengalaman yang nyata. Dan ketika kesempatan itu benar-benar datang—menjadi dosen—saya tahu ini bukan sekadar pencapaian, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.

Memasuki sekitar lima tahun menjalani profesi ini, cerita mulai berubah. Saya menyadari bahwa menjadi dosen bukan hanya tentang mengajar, tetapi tentang profesionalisme, konsistensi, dan integritas. Pertanyaan yang sering muncul bukan lagi “apa yang ingin saya capai?”, melainkan “apakah saya mampu menjalaninya dengan baik?”. Pertanyaan itu tidak selalu mudah dijawab, tetapi cukup untuk membuat saya terus bergerak dan belajar. Bahkan dalam percakapan sederhana dengan istri, ketika ditanya apa hal yang paling saya syukuri, jawaban saya tetap sama: ini. Sebuah “keberuntungan” yang mungkin hanya datang sekali, namun cukup untuk dijalani dan dijaga seumur hidup.

Tulisan ini adalah langkah awal. Sebuah prolog dari perjalanan yang ingin saya ukir sendiri. Bukan untuk dinilai orang lain, tetapi sebagai ruang refleksi—untuk memahami kekurangan, mengakui proses, dan merawat semangat. Saya ingin bercerita, perlahan dan jujur. Dan jika waktu masih memberi kesempatan, saya berharap cerita ini akan terus berlanjut—lebih panjang, lebih dalam, dan lebih bermakna.


Post a Comment

0 Comments