Disclaimer dulu, ini murni opini dan pengamatan pribadi. Kita sedang ada di era distribusi, tapi ironisnya ruang-ruang pendidikan justru seperti masuk ke “ruang pembiaran” yang perlahan menggerus moral. Pendidik—baik guru maupun dosen—hari ini banyak disibukkan dengan urusan akreditasi dan prestasi di atas kertas. Semua diutak-atik demi predikat terbaik, dokumen terlengkap, angka yang terlihat rapi. Tapi di tengah itu, ada hal yang seperti tertinggal: bagaimana sebenarnya mendidik manusia.
Anak-anak sekarang dijejali kata-kata motivasi, word of affirmation, yang terdengar indah tapi sering tanpa diiringi pemahaman tentang konsekuensi. Dulu kita kenal reward and punishment sebagai bagian dari proses. Sekarang, yang dikejar justru bagaimana punishment tidak terekspos dan reward bisa dibagi rata ke semua. Tidak ada lagi tinggal kelas, tidak ada lagi KKM yang jadi batas tegas. Semua seragam, semua “aman”, karena takut dianggap aib. Padahal, proses belajar tidak selalu nyaman—dan justru dari ketidaknyamanan itu karakter terbentuk.
Masalahnya, dunia nyata tidak sehalus itu. Di luar sana ada ancaman PHK, lingkungan kerja yang toxic, power abuse yang nyata terjadi. Tapi di dalam sistem pendidikan, banyak hal dibuat seolah steril dari tekanan. Lembaga berlomba-lomba menarik mahasiswa tanpa saringan yang kuat, cukup dengan nilai di atas kertas. Tes ada, tapi seringkali hanya formalitas. Akhirnya, masuklah mahasiswa yang bahkan kemampuan dasar—membaca, menulis, berhitung—masih lemah. Tidak heran kalau literasi rendah, karena fondasinya memang tidak pernah benar-benar dibangun.
Di ruang-ruang rapat, yang dibahas bukan lagi bagaimana mendidik dengan jujur, tapi bagaimana memastikan “anak jangan sampai gagal, bagaimanapun caranya”. Semua demi menjaga akreditasi, menjaga jumlah peminat, menjaga citra. Semuanya dibungkus rapi, tapi semu. Lulusan terus dicetak, tapi tidak siap menghadapi realitas. Lalu angka pengangguran meningkat, dan pertanyaan besarnya muncul: sebenarnya yang salah siapa?
0 Comments