Gali lobang, tutup lobang dengan sampah organik

Hari ini saya kembali belajar dari sesuatu yang sederhana: tanah. Setelah beberapa waktu mencoba metode ember kompos, saya harus jujur mengakui—tidak berjalan seperti yang diharapkan. Bau mulai muncul, lalat berdatangan, dan kapasitasnya jelas tidak mampu menampung sampah rumah tangga yang setiap hari terus ada. Tidak semua sampah organik juga bisa cepat terurai. Dari situ saya sadar, ada metode yang mungkin lebih “membumi”—secara harfiah.
Akhirnya saya memutuskan membuat lubang tanam sekaligus biopori. Saya sampai membeli alat khusus untuk membuat lubang biopori, dan ternyata sangat membantu, apalagi kondisi tanah di halaman rumah memang tidak begitu subur. Justru di situlah menariknya—kita tidak hanya mengelola sampah, tapi juga sekaligus memperbaiki tanah. Saya mulai memasukkan sampah organik ke dalam lubang, sesuatu yang dulu mungkin dianggap sepele, tapi sekarang terasa sangat bermakna.
Dari obrolan dengan orang tua dan juga membaca beberapa literatur, ternyata praktik ini bukan hal baru. Di kampung-kampung dulu, cara seperti ini sudah dilakukan: mengembalikan sampah organik ke tanah, bukan membuangnya jauh dari kehidupan. Ada filosofi yang dalam di sana—bahwa apa yang berasal dari alam, seharusnya kembali ke alam. Sebelum ditutup, saya juga menyiramkan EM4 untuk membantu proses penguraian. Sederhana, tapi terasa “hidup”.
Melihat hasilnya, ada kepuasan yang berbeda. Bukan hanya soal mengurangi sampah, tapi juga tentang menyadari bahwa solusi kadang tidak perlu rumit—cukup kembali ke cara lama yang sempat kita tinggalkan. Lubang kecil di tanah itu, ternyata bukan sekadar tempat mengubur, tapi juga cara kita berdamai dengan sisa-sisa kehidupan sehari-hari. Dan mungkin, dari situ juga, kita belajar untuk hidup lebih selaras.
maaf fotografer masih amatir 😂

Post a Comment

0 Comments