Muhasabah - Menumbuhkan keikhlasan dan semangat dalam beribadah


A’udzubillahi minasy-syaithanir rajim.

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wabihi نستعين على أمور الدنيا والدين.
Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, shallallahu ‘alaihi wasallam.

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah memberikan kita nikmat dan kesempatan untuk beribadah. Sudah sepatutnya kita menjadikan syukur sebagai keutamaan dalam hidup kita.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 18:
“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”

Salah satu nikmat yang sering kita lupakan adalah ketika Allah menggerakkan hati kita untuk melangkahkan kaki menuju ibadah. Kita melihat di sekitar kita, masih banyak saudara-saudara kita yang belum merasakan nikmat tersebut. Maka dari itu, ketika kita diingatkan oleh Allah, itu adalah bentuk kasih sayang-Nya, dan sudah seharusnya kita semakin bersyukur.

Kaum muslimin, jamaah salat tarawih rahimakumullah,

Kita saat ini berada di 10 hari terakhir Ramadan. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang mendapatkan malam Lailatul Qadar. Ini juga menjadi alasan kuat bagi kita untuk terus bersyukur.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Ibrahim:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu kufur, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang telah membawa petunjuk melalui wahyu Allah, sehingga kita dapat menjalankan rukun Islam, termasuk ibadah puasa dan salat lima waktu.

Mudah-mudahan ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadan ini menjadi bekal kita menuju kehidupan akhirat.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Tema muhasabah kita kali ini adalah bagaimana menumbuhkan keikhlasan dan semangat dalam beribadah.

Hakikat manusia adalah mengalami naik turun dalam keimanan. Ada saat kita sangat semangat beribadah, dan ada pula saat kita merasa lemah. Ini adalah hal yang wajar, karena kita bukan malaikat yang senantiasa taat tanpa henti.

Untuk itu, ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan:

Pertama, membangun pola pikir.
Kita perlu mengatur kembali mindset kita agar ketika iman menurun, kita tahu bagaimana cara meningkatkannya kembali.

Kedua, mengelola emosi.
Belajar sabar, tawaduk, dan ikhlas dalam menjalani ibadah adalah kunci penting dalam menjaga kestabilan hati.

Ketiga, memperkuat dukungan sosial.
Lingkungan yang baik dan positif akan sangat membantu kita dalam menjaga kualitas ibadah.

Keempat, menjaga kesehatan.
Fisik yang sehat akan mendukung jiwa yang kuat dalam beribadah.

Kelima, belajar dari kesalahan.
Melakukan refleksi diri secara terus-menerus akan membantu kita memperbaiki kualitas diri.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

Artinya, perubahan harus dimulai dari diri kita.

Jamaah sekalian,

Jika kita pernah merasakan nikmatnya ibadah, maka ketika iman menurun, ingatlah kembali momen tersebut. Dan bagi yang belum merasakannya, teruslah mencoba hingga meraih kenikmatan itu.

Beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan:

  1. Menetapkan tujuan (set the goal).
    Tentukan tujuan ibadah kita dengan jelas.

  2. Membuat perencanaan (planning).
    Susun langkah-langkah yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

  3. Melakukan pemantauan (tracking).
    Lihat sejauh mana progres ibadah yang sudah kita jalankan.

  4. Evaluasi.
    Perbaiki kekurangan dan tingkatkan yang sudah baik.

Ramadan adalah bulan latihan. Bulan untuk membentuk kebiasaan ibadah yang konsisten. Kita mungkin akan gagal berkali-kali, tetapi jangan takut. Justru di situlah proses pembelajaran kita.

Semoga Allah memberkahi langkah kita semua.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Post a Comment

0 Comments