Fenomena “Gak Enakan”

Seru juga ternyata nulis blog. Kadang lagi bingung mau ngapain, iseng buka foto-foto di HP, eh malah keingat satu cerita.

Semalam tiba-tiba dihubungi teman lama yang cukup akrab. Kebetulan dia lagi ada di kafe, nggak jauh dari rumah. Padahal biasanya dia tinggal di luar kota. Nggak tahu lagi ada acara apa, tapi dia ngajak ketemu. Jujur, ada rasa senang, tapi di sisi lain juga muncul rasa “gak enakan”.

Masalahnya, malam itu saya sudah punya jadwal lebih dulu: membimbing mahasiswa lewat Zoom. Akhirnya saya persilakan saja dia ke rumah. Tapi sepertinya dia juga lagi bareng teman-temannya, mungkin juga sama-sama sungkan. Dalam hati cuma berharap, semoga “pak komandan” (beliau tentara) nggak tersinggung 😅. Saya bilang saja, kalau ada waktu nanti bisa disamperin.

Jadi keingat masa lalu. Waktu dia sudah sibuk bertugas, saya masih di fase kuliah—luntang-lantung, petantang-petenteng. Pernah juga kami ketemu, jalan-jalan, sampai janjian ke Pekanbaru buat nengok teman yang baru lulus. Sekarang? Nggak terasa, semua sudah berkeluarga. Waktu memang jalan cepat.

Dulu, saya ini termasuk tipe yang gampang “gak enakan”. Sedikit-sedikit merasa bersalah kalau nggak bisa memenuhi permintaan orang. Tapi sekarang mulai belajar mengurangi itu—nggak lagi terlalu jadi people pleaser. Lebih fokus ke diri sendiri, selama keluarga baik-baik saja, rasanya nggak masalah kalau sesekali bilang “nanti dulu”. Mungkin juga karena faktor "U" gak semua bisa dikejar.

Mungkin ini bagian dari proses bertumbuh juga. Belajar memilah mana yang prioritas, mana yang bisa ditunda. Bukan berarti berubah jadi cuek, tapi lebih ke arah menjaga keseimbangan.

Sekian cerita sederhana dari foto lama dan satu momen kecil. Ternyata, dari hal-hal begini kita bisa belajar banyak. Kadang, “gak enakan” itu bukan soal sopan santun saja, tapi juga tentang bagaimana kita mengenal diri sendiri.

Post a Comment

0 Comments