Dendam Pada Setan (Fase 2)

Fase 2 — Rumah di Kaki Gunung


“Sebagian rumah memang kosong… tapi tidak semua rumah kosong itu boleh ditempati.”

Kalimat itu terus terngiang di kepala Arman bahkan setelah lelaki tua di warung kopi mengucapkannya sambil menatap hujan turun di lereng gunung.

Namun saat itu Arman hanya tersenyum kecil.

Ia terlalu lelah untuk percaya pada pertanda.

Perjalanan pulang ke desa bukanlah kemenangan. Itu pelarian.

Bertahun-tahun hidup di ibu kota telah mengikis banyak hal dalam diri Arman. Dahulu ia dikenal sebagai tukang bangunan yang piawai. Tangannya cekatan, pikirannya cepat, dan mulutnya pandai membawa suasana di proyek. Mandor menyukainya. Klien sering memintanya langsung.

Namun dunia proyek tidak selalu dibangun dengan semen dan besi.

Kadang dibangun dengan kebohongan.

Ia dijebak dalam permainan material, namanya dicatut, hutang menumpuk atas pekerjaan yang bahkan bukan ulahnya. Rekan kerja menghilang. Nomor tak lagi aktif. Arman yang menanggung semuanya.

Satu demi satu barang dijual.

Motor hilang.

Tabungan habis.

Dan sisa hidupnya hanya diisi tagihan serta suara debt collector.

Padahal berkali-kali ia ditawari “jalan cepat”.

“Kerja malam aja, Man. Duit gede.”

“Ngawal barang.”

“Cuma nutup mata sedikit.”

Namun Arman selalu menolak.

“Aku cari makan, bukan cari dosa,” jawabnya waktu itu.

Sari selalu bangga pada jawaban itu.

Meski kenyataannya… hidup mereka tetap sulit.

Malam itu di kontrakan sempit ibu kota, listrik sempat mati. Anak sulung mereka, Alya, tertidur sambil memeluk buku sekolah. Dika kecil tidur di pangkuan Sari.

Arman duduk diam memandangi langit-langit.

“Aku gagal ya, Ri…” suaranya pelan.

Sari menatapnya lama sebelum menggenggam tangannya.

“Kalau gagal, harusnya kita udah nyerah dari dulu.”

Arman tersenyum hambar.

“Aku capek.”

“Aku juga,” jawab Sari jujur. “Tapi kita masih pulang ke rumah yang sama tiap malam. Itu berarti kita belum kalah.”

Kalimat itu bertahan di kepala Arman lebih lama daripada nasihat siapa pun.

Ia sempat mencoba menjadi driver online. Siang malam di jalan. Kadang belum makan sampai sore. Namun bunga hutang lebih cepat tumbuh daripada penghasilannya.

Sampai akhirnya satu keputusan dibuat.

Pulang.

Ke desa lama di pedalaman Jawa Tengah, kaki gunung yang dinginnya menusuk tulang saat malam tiba.

Orang tuanya sudah lama pindah ke ibu kota mengikuti kakaknya. Rumah keluarga pun telah dijual bertahun lalu. Tidak ada lagi saudara dekat di sana.

Yang tersisa hanya kenangan… dan sebuah rumah kosong murah yang ditawarkan seseorang.

Rumah kayu tua di pinggir desa.

Dekat hutan kecil.

Dekat mushola tua yang mulai sepi.

Awalnya semua terasa biasa.

Penduduk menerima mereka dengan ramah meski agak dingin. Sebagian besar bekerja sampai malam. Desa itu anehnya terlalu sunyi selepas magrib.

Tidak ada anak bermain.

Tidak ada suara televisi keras.

Hanya angin gunung… dan suara serangga.

Arman mencoba berbaur. Ia rutin ke mushola kecil dekat rumah. Imamnya seorang ustad tua berjenggot tipis dengan senyum lembut yang entah kenapa terasa sulit ditebak.

“Pendatang ya?” tanya ustad itu malam pertama.

“Iya, Pak Ustad. Baru pindah.”

“Betah tinggal di sini?”

Arman tersenyum.

“Insyaallah.”

Ustad itu mengangguk perlahan. Terlalu perlahan.

“Kalau malam… jangan sering keluar rumah.”

Arman tertawa kecil.

“Banyak maling?”

Tatapan ustad itu diam beberapa detik.

“Kadang yang masuk rumah… bukan manusia.”

Beberapa hari kemudian, seorang tetangga perempuan datang membawa singkong rebus.

Namanya Bu Wirti.

Matanya sembab seperti orang yang jarang tidur nyenyak.

Saat melihat rumah Arman, wajahnya berubah sedikit pucat.

“Rumah ini… dulu kosong lama.”

“Kenapa, Bu?” tanya Sari.

“Pemilik sebelumnya pindah.”

“Karena?”

Perempuan itu tampak ingin menjawab, namun suara motor tiba-tiba terdengar dari luar. Ia langsung diam.

Beberapa detik kemudian ia memaksakan senyum.

“Ah… nggak kenapa-kenapa.”

Namun sebelum pulang, ia sempat berbisik sangat pelan pada Sari.

“Kalau dengar orang nangis malam-malam… jangan dibukakan pintu.”

---

Minggu pertama berlalu.

Rumah itu mulai terasa… tidak biasa.

Kadang pintu belakang terbuka sendiri.

Kadang terdengar langkah kaki di atap saat tengah malam.

Dika mulai bicara tentang “teman” yang suka berdiri dekat sumur belakang.

“Temannya tinggi banget, Yah."

Arman mengira itu hanya imajinasi anak kecil.

Sampai suatu malam Alya tiba-tiba terbangun sambil menangis.

“Ada orang di kamar…”

Arman langsung memeriksa.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun jendela kamar terbuka lebar.

Padahal sebelum tidur ia yakin sudah menguncinya.

---

Malam berikutnya hujan turun tipis.

Listrik desa padam.

Dari mushola terdengar suara azan… sangat lirih… lalu berhenti mendadak di tengah bacaan.


Arman berdiri di teras memandang gelap.


Dan untuk pertama kalinya sejak tinggal di sana—


ia melihat sesuatu bergerak di ujung jalan desa.


Tinggi.


Hitam.


Diam.


Seolah sedang memperhatikan rumahnya.


Saat Arman melangkah maju, sosok itu perlahan mundur masuk ke kabut gunung.


Menghilang.


Namun anehnya…


anjing-anjing desa mulai melolong bersamaan.


Dari kejauhan, samar-samar terdengar suara orang berbisik.


Bukan satu suara.


Banyak.


Seperti doa.


Atau…


ritual.


Dan tanpa Arman sadari—


sejak malam pertama ia menginjak desa itu…


sesuatu sebenarnya sudah memilih keluarganya.

Post a Comment

0 Comments