Hari ini mencoba membaca karya Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Al-Sheikh yang diterjemahkan oleh Ghoffar E.M., Abdurrahim Mu’thi, dan Abu Ihsan Al-Atsari.


Pada bagian mukadimah dijelaskan bagaimana terdapat perbedaan jumlah ayat dalam Al-Qur’an menurut para ulama. Menarik juga membaca pembahasan ini, karena sering kali kita memahami Al-Qur’an sudah tersusun seperti sekarang sejak masa Nabi, padahal proses kodifikasi dan penulisannya memiliki sejarah panjang yang melibatkan para sahabat dan ulama setelahnya.

Membacanya cukup menantang bagi saya pribadi. Bahasa yang digunakan masih terasa cukup berat, banyak tokoh yang belum familiar, serta konteks pembahasannya perlu dibaca perlahan dan kadang diulang beberapa kali agar lebih paham. Namun di situlah letak menariknya, karena setiap bagian seperti mengajak pembaca ikut merenungi bagaimana para ulama menjaga dan memahami Al-Qur’an dengan sangat detail.

Semoga bisa konsisten membaca sedikit demi sedikit dan tidak hanya berhenti di rasa penasaran awal saja.

Tulisan ini hanyalah opini dan pengalaman pribadi penulis. Jika ingin memahami lebih dalam, tentu lebih baik merujuk langsung kepada para ustaz atau orang yang lebih mahfum. Wallahu a‘lam bish-shawab.