Fase 6 — “Nama yang Tidak Pernah Benar-Benar Hilang”
Bukan sekali dua kali Pak Darso merasa melihat sosok itu.
Selalu malam hari.
Selalu sekilas.
Kadang saat jalan mulai sepi dan lampu gerobaknya hampir dimatikan, matanya tanpa sadar melirik ke kedai besar di seberang jalan. Di antara ramainya pegawai dan pelanggan, ada siluet yang terasa begitu familiar. Cara berdiri. Cara menunduk saat bicara. Bahkan langkah kecilnya.
Tapi setiap Pak Darso mencoba memastikan… sosok itu selalu hilang lebih dulu.
“Pak… ngelamun terus,” tegur Bu Siti suatu malam.
Pak Darso hanya menggeleng kecil.
“Ra ngerti… perasaanku kok kayak pernah lihat dia di sana.”
(Nggak tahu… perasaanku seperti pernah lihat dia di sana.)
Malam itu, entah kenapa perasaan itu terasa lebih kuat dari biasanya. Setelah menutup lapak lebih awal, Pak Darso berjalan pelan menyeberang jalan menuju kedai “Es Kelapa Segar by Bagas”. Untuk pertama kalinya dalam hampir setahun, ia masuk ke sana. Lampunya terang. Pendingin ruangan terasa dingin. Pegawai sibuk membereskan meja.
Pak Darso berdiri kikuk di dekat kasir.
“Mas…” katanya pelan, “yang sering malam ada di sini… anak muda kurus, tinggi… namanya Arga… ada?”
Beberapa pegawai saling berpandangan bingung.
“Arga?”
Salah satu karyawan akhirnya tertawa kecil pelan.
“Oh… maksud Bapak, Pak Bagas?”
Pak Darso mengernyit.
“Bagas?”
“Iya, bos kami.”
Dada Pak Darso mendadak terasa kosong.
Karyawan itu melanjutkan tanpa merasa ada yang aneh.
“Kami malah kira beliau buka cabang kecil di depan sana.” sambil menunjuk ke arah gerobak Pak Darso.
“Pak Bagas memang sering turun langsung. Cabangnya sudah banyak… Jakarta, Jogja, Surabaya… hampir se-Indonesia jualan es kelapa.”
Pak Darso tidak langsung menjawab.
Tangannya perlahan mencengkeram meja kasir.
“Mas… mungkin sampeyan salah orang.”
(Mas… mungkin kamu salah orang.)
Karyawan itu langsung mengambil ponsel.
“Ini lho, Pak.”
Layar itu diperlihatkan pelan.
Foto seorang pria memakai kemeja hitam berdiri di depan grand opening salah satu cabang besar. Senyumnya tipis. Tatapannya tenang.
Wajah itu.
Sama persis.
Pisau kelapa yang selama ini dipegang Arga…
suara pelannya…
cara ia duduk diam setiap sore…
Semuanya mendadak terasa seperti potongan puzzle yang jatuh bersamaan.
Pak Darso mundur satu langkah.
Suara di dalam kedai mendadak seperti menjauh.
Selama ini…
orang yang tidur di gubuk belakang gerobaknya…
orang yang membantu tanpa digaji…
orang yang makan Indomie bersama mereka di malam dingin…
adalah pemilik usaha besar yang dulu hampir membuatnya bangkrut.
Keesokan paginya, salah satu karyawan datang tergesa ke lapak.
“Pak… tadi malam Pak Bagas tahu saya cerita.”
Pak Darso diam.
“Beliau minta maaf…”
Lalu karyawan itu menyerahkan sebuah amplop coklat yang sedikit terlipat di ujungnya.
Tangan Pak Darso gemetar saat membukanya.
Di dalamnya hanya ada satu lembar surat.
Tulisan tangan yang sangat ia kenal.
Pak…
Saya ingin datang langsung, tapi saya takut Bapak kecewa.
Saya memang berbohong soal nama dan hidup saya.
Tapi semua waktu yang saya habiskan di gerobak itu… tidak pernah bohong.
Pak Darso menunduk pelan.
Dulu saya juga pernah susah, Pak.
Saya tahu rasanya melihat usaha sendiri pelan-pelan hilang.
Dan mungkin… saya terlalu egois membangun usaha besar sampai membuat banyak orang kecil kehilangan pembeli.
Angin siang berhembus pelan membalik sedikit ujung surat itu.
Saya hanya ingin membuktikan… bahwa usaha kecil tidak harus kalah.
Karena kalau Bapak bisa bangkit lagi… mungkin saya masih bisa memaafkan diri saya sendiri.
Tangan Pak Darso berhenti di bagian paling bawah surat.
Tulisan terakhirnya pendek.
Terima kasih sudah pernah menganggap saya keluarga.
— Bagas
0 Comments