Fase 4 — “Berbenah”
Musim kemarau datang perlahan, membawa udara panas yang justru menghidupkan kembali jalan kecil itu. Sore hari kini tidak lagi terasa sepi bagi Pak Darso. Di depan gerobaknya, beberapa motor mulai berhenti bergantian. Gelas-gelas tak lagi tersusun penuh seperti dulu. Meja kayu sederhana sudah berdiri di samping gerobak, lengkap dengan kursi plastik yang meski berbeda warna, terlihat rapi. Di sudut kecil, toples keripik singkong, kacang bawang, dan jadah goreng buatan Bu Siti mulai ikut dijajakan.“Pak, degannya satu… yang pakai jahe sama serai itu ya,” ujar seorang pelanggan muda.
Pak Darso tersenyum kecil sambil menuangkan air kelapa.
“Nggih, sing rempah.” (Iya, yang rempah.)
Aroma serai dan jahe hangat bercampur dinginnya es mulai menjadi ciri khas baru lapak itu.
Meski begitu, kedai besar di seberang jalan tetap ramai. Lampu “Es Kelapa Segar by Bagas” menyala terang setiap malam, antreannya panjang dipenuhi anak muda dan keluarga. Namun anehnya, kini pelanggan Pak Darso juga mulai punya tempat sendiri. Orang-orang lama yang dulu menghilang perlahan kembali.
“Degan sini tuh beda…” kata seorang bapak sambil menyeruput pelan.
“Iyo, rasane kayak dulu.” (Iya, rasanya seperti dulu.)
Pak Darso diam-diam mendengar sambil mengelus gerobak yang kini sudah dicat ulang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama… ia merasa usahanya belum habis.
Bu Siti bahkan mulai sibuk sendiri di belakang gerobak.
“Mas, Indomienya rebus apa goreng?” tanyanya cepat.
“Rebus, Bu. Telurnya dua.”
Malam-malam kini terasa lebih hidup. Asap mie rebus bercampur aroma kelapa muda memenuhi pinggir jalan. Orang-orang duduk santai, beberapa tertawa kecil, beberapa hanya menikmati angin malam. Jalan itu berubah menjadi ramai di kedua sisi. Tidak saling mematikan… justru seperti tumbuh bersama.
Pak Darso duduk sebentar memperhatikan semuanya.
Lalu tanpa sadar matanya mencari satu orang.
Pemuda itu.
Yang dulu datang tanpa tujuan jelas.
Sudah hampir lima bulan berlalu.
Ia memang masih membantu setiap pagi hingga sore. Tapi setelah magrib menjelang tutup, ia selalu menghilang entah ke mana. Tidak pernah bercerita. Tidak pernah membawa teman. Tidak pernah menerima terlalu banyak pertanyaan.
“Pak… njenengan nggak penasaran to sebenarnya dia tinggal di mana?” tanya Bu Siti pelan suatu malam.
Pak Darso terdiam sebentar.
“Penasaran… tapi kadang wong punya cerita yang ora pengin diceritakke.”
(Penasaran… tapi kadang orang punya cerita yang tidak ingin diceritakan.)
Malam itu, setelah lapak tutup, Pak Darso baru sadar dompet kecil tempat uang kembalian tertinggal di gerobak. Ia berjalan kembali sendirian menyusuri jalan yang mulai sepi. Lampu toko-toko banyak yang sudah padam, hanya kedai “Es Kelapa Segar by Bagas” yang masih menyala terang dari kejauhan.
Saat mengambil dompetnya, tanpa sengaja matanya melirik ke seberang jalan.
Ada seseorang berdiri di dalam kedai itu.
Samar.
Terlihat sedang berbicara dengan beberapa orang.
Pak Darso menyipitkan mata.
Entah kenapa… siluet itu terasa sangat familiar.
Ia terdiam cukup lama.
Lalu menggeleng pelan.
“Mungkin cuma perasaan…”
0 Comments