Fase 5 — “Dia yang Pelan-Pelan Mundur”
Sudah lama Pak Darso tidak melihat termos esnya penuh sampai malam. Sekarang justru kebalikannya. Baru lewat jam sebelas siang, antrean mulai menumpuk. Suara pisau membelah kelapa bersahutan tanpa henti, kursi-kursi kayu hampir selalu terisi. Bahkan beberapa motor rela parkir sampai ke pinggir jalan hanya demi segelas degan rempah khas Pak Darso.
“Pak, tambah dua lagi yang gula aren!” teriak pelanggan dari belakang.
“Bu, Indomienya tiga!”
Bu Siti sampai tertawa kecil karena kewalahan.
“Nggih sabar, satu-satu!” (Iya sabar, satu-satu!)
Pak Darso mengusap keringat di dahinya sambil tersenyum lelah.
“Ra nyongko iso ramai meneh ngene…”
(Nggak nyangka bisa ramai lagi begini…)
Atas saran Arga, mereka mulai tutup lebih cepat saat dagangan habis.
“Pak, jangan dipaksa buka terus kalau stok habis. Pembeli justru penasaran kalau cepat ludes,” katanya dulu.
Dan ternyata benar.
Kini jam satu siang kadang semuanya sudah habis. Tinggal jajanan ringan yang tersisa di meja. Berbeda dengan kedai besar di depan yang tetap buka hampir dua belas jam penuh, usaha kecil Pak Darso justru punya ritmenya sendiri. Pelanggannya datang bukan hanya mencari dingin—tapi rasa yang tidak ditemukan di tempat lain.
Suatu sore, seorang influencer lokal datang meliput. Kamera kecil menyorot proses membelah kelapa, asap Indomie rebus, hingga racikan serai dan jahe yang dituangkan perlahan ke dalam gelas. Video itu viral dalam beberapa hari. Pelanggan makin ramai.
“Pak Darso sekarang terkenal,” canda Bu Siti sambil tertawa.
Pak Darso hanya menggeleng kecil, lalu melirik ke arah Arga.
“Sing nggawe berubah yo dudu aku.”
(Yang membuat berubah juga bukan saya.)
Tapi anehnya… justru sejak semuanya membaik, Arga mulai sering menghilang lebih cepat. Kadang izin sebentar, kadang pergi sebelum magrib. Tidak banyak bicara seperti dulu.
“Gaweanmu wes apik, kenapa nggak buka sendiri wae?” tanya Pak Darso suatu malam.
(Kerjamu sudah bagus, kenapa nggak buka sendiri saja?)
Arga hanya tersenyum kecil sambil membereskan kursi.
“Belum waktunya, Pak.”
Lalu suatu hari—tanpa hujan, tanpa pertanda—Arga berdiri di depan gerobak dengan tas kecil di pundaknya. Jalanan sore itu ramai seperti biasa, tapi wajahnya terlihat berbeda. Tenang… terlalu tenang.
“Kulo bade pamit, Pak…”
(Saya mau pamit, Pak…)
Tangan Pak Darso yang sedang memotong kelapa langsung berhenti.
“Pamit? Maksude?”
(Pamit? Maksudnya?)
Arga menunduk sedikit.
“Kulo mulai cari kegiatan baru supaya ada kerjaan lain.”
(Saya mulai mencari kegiatan baru supaya ada pekerjaan lain.)
Bu Siti langsung mendekat.
“Lho… salah kami apa, Le?”
(Nak… salah kami apa?)
Arga cepat menggeleng.
“Mboten, Bu… malah kulo sing matur nuwun.”
(Tidak, Bu… justru saya yang berterima kasih.)
Tujuh bulan terasa singkat.
Dari hanya numpang tidur di sudut gubuk belakang gerobak, sampai menjadi bagian dari hidup mereka sehari-hari.
Sebelum pergi, Arga hanya berkata pelan sambil tersenyum kecil,
“Pak… jaga kesehatan. Penghasilan segini sudah cukup buat keluarga. Jangan dipaksa terus.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi entah kenapa… terdengar seperti perpisahan yang sudah lama dipikirkan.
Tiga bulan berlalu.
Kedai tetap ramai. Bahkan lebih ramai dari sebelumnya. Tapi bagi Pak Darso, suasananya terasa berbeda.
Ada kursi kosong yang tidak pernah benar-benar kosong.
Ada suara yang hilang di antara ramainya pelanggan.
Suatu malam saat membereskan meja, Bu Siti tiba-tiba bertanya pelan,
“Pak… njenengan sadar nggak?”
(Pak… sadar nggak?)
Pak Darso menoleh.
“Kita nggak pernah benar-benar tahu… dia itu siapa.”
Pak Darso terdiam.
Karena baru malam itu ia sadar—
selama tujuh bulan bersama…
mereka bahkan tidak pernah melihat Arga memegang telepon.
0 Comments