Sehari sebelum kejadian mengerikan itu, lembaga Corps Corruption Negara Wakanda menggelar konferensi besar-besaran di hadapan media. Dengan penuh keyakinan mereka berjanji akan menuntaskan praktik korupsi yang selama ini menggerogoti negara. Spanduk bertuliskan “Bersih, Transparan, Berintegritas” memenuhi ruangan, sementara pejabat saling melempar senyum di depan kamera. Namun di luar gedung mewah itu, laporan investigasi dari organisasi independen Corruption Watch justru menunjukkan hal sebaliknya—kasus korupsi meningkat, proyek fiktif terus berjalan, dan uang negara mengalir ke kantong yang sama.
Tetapi rakyat sudah terlalu lelah untuk marah. Di pasar-pasar, orang lebih sibuk memikirkan harga beras yang naik dan pekerjaan yang semakin sulit didapat. Sopir angkot mengeluh soal bensin, pedagang kecil menghitung recehan, sementara berita korupsi hanya menjadi suara latar di televisi warung kopi. Di sisi lain, para pejabat terus melipatgandakan harta, berbicara soal pengabdian sambil membangun istana dari uang yang tidak pernah benar-benar menjadi milik mereka.
Malam sebelum kematiannya, politikus yang kini menjadi headline nasional itu terlihat tergesa-gesa di ruang kerjanya. Wajahnya tegang, keringat bercampur dengan suara hujan di luar jendela. Ia memerintahkan anak buahnya memasukkan tumpukan uang ke dalam koper hitam besar. Sebagian uang lainnya dipisahkan ke dalam kardus-kardus rapi yang rencananya akan dibawa esok pagi untuk dipamerkan kepada masyarakat sebagai “bukti keberhasilan program pemerintah.” Semua harus terlihat sempurna di depan kamera.
Namun malam itu tidak berjalan sesuai rencana. Ketika listrik sempat padam beberapa detik akibat badai, suasana rumah berubah sunyi dan aneh. Para pengawal mengaku tidak melihat siapa pun masuk ataupun keluar. Hanya suara hujan dan petir yang terdengar di sepanjang malam. Hingga beberapa jam kemudian, tubuh sang politikus ditemukan tak bernyawa di kamar pribadinya, dengan mulut dijejali uang dan dokumen audit tertempel di jendela seperti hukuman yang dipamerkan secara sengaja.
Keesokan paginya, kepolisian bergerak cepat. Dalam tekanan publik dan kemarahan elit politik, mereka segera menggelar konferensi pers untuk mengumumkan bahwa pelaku akan segera ditangkap. Aula penuh wartawan, lampu kamera menyala tanpa henti, sementara seorang perwira tinggi mulai memberikan pernyataan resmi tentang “kemajuan penyelidikan.” Namun sebelum konferensi selesai, suasana tiba-tiba berubah ricuh.
Dari arah belakang ruangan, seorang pria tanpa baju menerobos masuk sambil berteriak histeris. Tubuhnya penuh coretan merah menyerupai darah, dengan tulisan besar memenuhi dadanya:
“AKAN AKU PERLIHATKAN SIKSAAN SELANJUTNYA.”
Para wartawan panik, kamera berjatuhan, polisi langsung mengejar pria itu yang tertawa sambil berlari menuju podium. Di tengah kekacauan tersebut, satu hal mulai terasa jelas—ini bukan sekadar pembunuhan biasa. Seseorang sedang memainkan ketakutan di depan publik, dan negara mulai kehilangan kendali atas narasinya sendiri.
0 Comments