Tempat Pulang Itu Bukan Rumah #4

“Kadang yang membuat seseorang lelah bukan pertengkaran… tapi ketika semuanya terasa biasa saja, padahal hati perlahan kosong.”

Rumah itu terasa sumuk saat malam dan dingin menjelang subuh. Bukan karena tidak ada AC atau cuaca yang terlalu panas. Ada sesuatu yang lebih sesak dari sekadar udara: kehangatan yang perlahan menghilang tanpa suara.

Malam itu Sabda kembali tidur sendiri.

Seperti biasa, setelah menidurkan anak-anak di samping istrinya, ia perlahan bangkit dari kasur. Gerakannya pelan, hampir tanpa suara. Ia sempat berdiri beberapa detik di dekat pintu kamar.

Berharap.

Mungkin istrinya akan berkata sesuatu.

“Mau ke mana?”

“Belum tidur?”

atau sekadar,

“Sini aja…”

Namun tidak ada.

Istrinya hanya diam memunggungi dirinya sambil memeluk anak mereka yang sudah tertidur.

Sabda menarik napas pelan lalu keluar kamar.

Jarak menuju kamar sebelah sebenarnya sangat dekat. Hanya beberapa langkah. Tapi akhir-akhir ini rasanya seperti berjalan meninggalkan sesuatu yang dulu pernah hangat.

Pintu ditutup perlahan.

Sunyi kembali mengambil tempat.

Kasur kecil. Lampu redup. Dinding kusam. Dan ponsel yang lagi-lagi menjadi teman paling setia di tengah malam.

Rutinitas seperti ini sudah terlalu sering terjadi sampai terasa normal.

Kadang Sabda mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

“Mungkin memang begini rumah tangga…”

Namun semakin malam, pikirannya semakin sulit diajak damai.

Ia bergumam sendiri sambil menatap langit-langit.

“Mungkin dia capek…”

Beberapa detik kemudian pikirannya berubah lagi.

“Atau aku yang nggak ngerti cara jadi pasangan yang baik?”

Sabda memejamkan mata.

“Tapi… kalau memang masih ada rasa, kenapa rasanya sedingin ini ya?”

Pertanyaan itu menggantung.

Tidak ada jawaban.

Karena istrinya tidak pernah benar-benar bicara soal apa yang ia rasakan. Hanya marah sesekali dengan tatapan sinis. Kadang mengomel. Kadang acuk. Semuanya berjalan datar.

Dan justru itu yang membuat Sabda takut.

Dulu mereka bisa tertawa lama hanya karena hal kecil. Sekarang percakapan mereka hanya sebatas kebutuhan sehari-hari.

“Besok anak dijemput jam berapa?”

“Gas habis.”

“Lampu depan mati.”

Hanya itu.

Tidak ada lagi cerita tentang isi kepala. Tidak ada lagi pertanyaan sederhana seperti,

“Hari ini capek ya?”

Sabda sebenarnya ingin dimengerti.

Namun masalahnya, ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menjelaskan isi hatinya.

Setiap ingin bicara, semuanya berhenti jadi gumaman pelan dalam kepala.

“Aku cuma pengen ditemenin…”

“Aku cuma pengen merasa dianggap ada…”

“Aku cuma pengen rumah ini terasa hidup lagi…”

Namun tidak pernah benar-benar terucap.

Dan mungkin istrinya juga lelah menghadapi seseorang yang lebih banyak diam dibanding menjelaskan.

Di malam lain, Sabda bahkan memilih tidur di ruang tamu. Sebuah karpet plastik lawas dibentangkan seadanya di lantai hanya demi mencari suasana berbeda.

Lucunya, kadang manusia pindah tempat bukan karena tidak nyaman.

Tapi karena ingin tahu… apakah kepergiannya akan disadari.

Sabda berbaring sambil mendengar suara kipas tua berputar pelan.

Tidak ada yang mencarinya.

Tidak ada pintu kamar yang terbuka.

Tidak ada langkah kaki mendekat.

Dan anehnya, hal kecil itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada pertengkaran besar.

Insomnia kini menjadi rutinitas. Tidur menjelang pagi. Bangun dengan kepala berat. Emosi mudah lelah. Tubuh terasa terus dipaksa berjalan meski hati mulai kehilangan tenaga.

Pelan-pelan ada sesuatu yang menggerogoti dirinya.

Bukan marah.

Bukan benci.

Tapi rasa hampa yang tumbuh diam-diam.

Sabda lalu mengambil ponselnya dan membuka foto-foto lama.

Ada foto saat rumah itu masih kosong tanpa banyak perabot. Ada foto mereka makan mi instan berdua sambil tertawa. Ada foto istrinya yang dulu sering bercerita sampai larut malam.

Sabda menatap lama foto itu.

Lalu bergumam lirih,

“Sebenernya… kita berubah, atau cuma berhenti saling bicara?”

Tepat saat itu, dari dalam kamar terdengar suara anaknya menangis kecil memanggil ibunya.

Dan untuk beberapa detik, Sabda berharap namanya juga dipanggil.

Namun sampai tangisan itu reda…

Tidak ada satu pun suara yang mencarinya.

Post a Comment

0 Comments