“Rumah seharusnya jadi tempat paling tenang… lalu kenapa malam itu Sabda justru ingin pergi?”
Malam sudah cukup larut. Jam di dinding hampir menunjukkan pukul sebelas. Namun rumah kecil itu belum benar-benar istirahat. Lampu ruang tamu masih menyala redup. Suara televisi bercampur dengan tangisan anak yang sejak tadi merengek ingin ditemani tidur.
Sementara itu, Sabda duduk bersandar di sofa sambil menatap layar ponsel. Jemarinya terus menggulir tanpa benar-benar fokus melihat apa yang tampil di sana. Kadang memang manusia tidak sedang mencari hiburan di layar, hanya mencari cara agar tidak perlu menghadapi isi kepalanya sendiri.
Di dapur, istrinya masih membereskan sisa pekerjaan rumah. Wajahnya terlihat lelah. Rambut mulai berantakan. Sedari pagi ia belum benar-benar duduk tenang.
Lalu tiba-tiba—
“Sabda!”
Suara itu keras.
Bukan sekadar panggilan, tapi ledakan yang seperti sudah ditahan terlalu lama.
Sabda tersentak dan mengangkat kepala.
“Bisa bantu nggak sih?! Dari tadi main hape terus!”
Tangisan anak mereka semakin keras. Anak sulung mereka berdiri di depan kamar sambil mengusap mata.
“Bunda… temenin…”
Istrinya memejamkan mata sesaat seperti mencoba menahan emosi yang tinggal sedikit lagi tumpah.
“Aku capek…” ucapnya lirih. “Seharian ngurus rumah, ngurus anak… kamu lihat nggak sih?”
Sabda menarik napas panjang. Nada suaranya mulai berubah.
“Aku juga kerja seharian.”
“Terus?” balas istrinya cepat. “Aku nggak kerja?”
Sabda mulai berdiri.
“Bukan gitu maksudku.”
“Terus apa maksudmu? Pulang duduk. Main hape. Anak nangis aku juga yang urus!”
Kalimat terakhir itu membuat sesuatu di dada Sabda ikut pecah.
“Aku muak!” bentaknya tiba-tiba.
Rumah langsung hening beberapa detik.
Anaknya diam ketakutan.
Istrinya menatap Sabda tidak percaya.
“Maksud kamu?”
“Aku muak nggak pernah dihargai!” suara Sabda semakin keras. “Pulang kerja nggak pernah ada sambutan. Nggak pernah ada yang nanya aku capek atau nggak. Yang ada cuma salah terus!”
Istrinya tertawa kecil. Namun bukan tawa bahagia.
“Dihargai?” katanya pelan. “Kamu pikir aku merasa dihargai?”
Sabda mengepalkan tangan.
“Setidaknya aku kerja buat rumah ini!”
“Dan aku hidup buat rumah ini, Sabda!”
Tangisan anak kembali pecah.
Namun malam itu, tidak ada yang benar-benar mendengar siapa pun.
Pertengkaran terus membesar. Dua orang yang sama-sama lelah mulai saling melukai dengan kata-kata yang sebenarnya tidak sepenuhnya mereka maksudkan.
“Aku capek jadi sendirian di rumah!” teriak istrinya.
“Aku juga capek merasa asing di rumah sendiri!” balas Sabda.
Kalimat itu menggantung di udara.
Sunyi.
Untuk sesaat keduanya seperti sama-sama sadar ada sesuatu yang jauh lebih rusak daripada sekadar masalah malam itu.
Anak mereka akhirnya ditarik masuk ke kamar.
“Udah. Nggak usah dibahas lagi.”
Pintu kamar ditutup pelan.
Tidak dibanting.
Namun cukup membuat Sabda merasa seperti ada jarak besar yang tiba-tiba tumbuh di rumah itu.
Sabda berdiri sendiri di ruang tamu. Televisi masih menyala tanpa suara yang benar-benar ia dengar. Ponsel di tangannya perlahan diletakkan.
Rumah itu penuh orang.
Tapi anehnya terasa kosong.
Ia berjalan ke dapur, mengambil air minum, lalu menatap pantulan dirinya di jendela gelap.
Matanya lelah.
Wajahnya asing.
Dan untuk pertama kali setelah sekian lama, Sabda mulai bertanya dalam hati—
“Jangan-jangan… selama ini aku memang tidak benar-benar pulang.”
Malam semakin larut.
Dari dalam kamar, samar-samar terdengar suara istrinya menangis pelan.
Sabda melangkah mendekati pintu kamar… lalu berhenti.
Tangannya nyaris menyentuh gagang pintu.
Namun tepat saat itu, ponselnya tiba-tiba bergetar.
Satu pesan masuk.
Dan setelah membaca nama pengirimnya, wajah Sabda langsung berubah.
0 Comments