Novfirman | Hari itu (blog ini sebenarnya telat terbit) Di kampus, ada mahasiswa yang izin mengikuti aksi demonstrasi. Namun izinnya bukan kepada saya langsung, melainkan kepada dosen yang memiliki jadwal kuliah saat itu. Saya hanya menyimak situasinya. Kalau ditanya, sebagai dosen apakah saya mengizinkan? Jawabannya mungkin sederhana: tidak. Bukan karena anti terhadap aksi atau aspirasi mahasiswa, tetapi karena dalam sistem akademik, aturan tetaplah aturan. Mahasiswa yang tidak hadir tetap dianggap alpa, dan itu adalah konsekuensi yang memang harus dipertanggungjawabkan. Dunia kerja dan kehidupan nyata juga berjalan dengan pola yang kurang lebih sama, tidak semua tindakan memiliki pengecualian hanya karena niatnya dianggap baik.
Tapi tunggu dulu, saya justru termasuk orang yang dulu cukup sering ikut demo ketika masih menjadi mahasiswa. Dan ya, dulu saya juga pernah diberi alpha karena ikut aksi. Namun yang saya lakukan tetap turun ke lapangan. Jadi secara moral, saya memahami bahkan mendukung keberanian mahasiswa untuk bersuara. Hanya saja, saya juga percaya bahwa perjuangan selalu memiliki konsekuensi. Tidak bisa semuanya ingin diperjuangkan tetapi tanpa risiko. Karena itu saya merasa penting agar mahasiswa memahami hubungan sebab-akibat dari keputusan yang mereka ambil. Demo itu bukan sekadar hadir, teriak, lalu selesai. Ada proses mental, ada ketahanan diri, ada keberanian menghadapi tekanan sosial, dan ada tanggung jawab terhadap pilihan yang diambil.
Saya sempat mengatakan, “Tidak usah diganti, menurut saya semua ada konsekuensinya, dan bagus kalau mereka paham sebab akibat. Saya dulu demo juga dapat alpha.” Demo itu tidak gampang. Tantangannya banyak. Kalau mental lemah, justru hanya akan menyiksa diri sendiri. Kecuali memang dari awal sistem pendidikan atau kurikulum mengakomodasi aksi sebagai bentuk pembelajaran, maka prosesnya akan berbeda. Itu pun tetap akan menjadi seleksi alam: mana yang benar-benar serius memperjuangkan sesuatu dan mana yang hanya ikut-ikutan suasana.
Karena kalau sudah berani turun aksi, artinya juga harus siap dengan banyak hal. Siap tidak ada spotlight. Siap tidak ada konsumsi. Siap keluar uang sendiri. Siap tidak mendapat keringanan. Siap mendengar sindiran, cibiran, bahkan dianggap aneh oleh sebagian orang. Sebab yang paling berbahaya adalah ketika aksi kehilangan idealisme dan berubah hanya menjadi formalitas atau bahkan sekadar ikut arus. Saya tidak ingin mahasiswa menjadi “pendemo bayaran”, tetapi pribadi yang benar-benar memahami apa yang diperjuangkan. Mental memang harus kuat, karena aksi tidak pernah benar-benar mudah.
Yang menjadi pertanyaan besar sebenarnya bukan sekadar apakah mereka ikut demo atau tidak, tetapi apakah mereka sadar apa yang sedang diperjuangkan? Apakah mereka melihat aksi sebagai hasil akhir atau justru sebagai proses belajar? Akan selalu ada nada sumbang yang muncul. Akan ada komentar seperti, “Kayak ngerti saja, kuliah masih dibiayai orang tua.” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak selalu bisa dilawan dengan emosi. Di situlah mahasiswa belajar: kalau belum mampu menjawab, apakah akan mencari jawabannya lebih dalam, atau hanya menjadi follower yang sekadar ikut berteriak ketika orasi berlangsung? Apakah mereka memahami fungsi gerakan, dampaknya, dan risiko yang bisa ditimbulkan?
Yang saya yakini, setiap momen akan menjadi proses pembentukan diri, terlepas dari apakah orang lain menganggapnya penting atau tidak. Dari situ nanti akan terlihat apakah mereka benar-benar bisa kompak dalam satu suara atau hanya menjadi buih-buih formalitas belaka. Semoga semua konsekuensi yang dijalani, isu aspirasi yang dibawakan, dan momen yang terjadi benar-benar menjadi pembelajaran bagi pribadi masing-masing. Karena benar dan salah tidak selalu bersifat konstan. Ia dinamis, sebagaimana manusia yang juga tidak pernah sempurna. Selamat berjuang dan bertempur di medan masing-masing. Terus berbenah, jangan berhenti pada apa yang diyakini hanya karena dipandang sebelah mata. Tugas kita adalah terus mencari kebenaran dan memperjuangkan keadilan menurut keyakinan yang kita pahami, sampai akhirnya proses itu membentuk pribadi yang lebih matang dan paripurna.
0 Comments