Tulisan ini bukan tentang pensil. Bukan pula tentang bagaimana merautnya hingga runcing. Ini tentang bagaimana manusia mengasah pikirannya. Sebab, pensil yang paling tajam pun tak akan menghasilkan tulisan yang bermakna jika pikiran yang menggerakkannya tumpul. Pikiran tidak menjadi tajam karena usia atau gelar, melainkan karena kebiasaan membaca, mengamati, berdiskusi, merenung, lalu menuliskannya. Menulis adalah cara merawat pikiran agar tidak berkarat oleh rutinitas dan prasangka.
Sejarah menunjukkan bahwa para pemikir besar selalu memulai dari kebiasaan merawat akal. mengajarkan pentingnya menyeimbangkan ilmu dengan kejernihan hati. membangun pemikiran besar tentang masyarakat melalui pengamatan yang panjang. Di Indonesia sebelum kemerdekaan, menyalakan kesadaran melalui surat-suratnya, mengubah arah pendidikan dengan gagasan-gagasannya, sementara dikenal sebagai pembaca yang tekun dan penulis yang disiplin. Mereka tidak dikenang karena alat tulis yang digunakan, tetapi karena pikiran yang terus diasah.
Mungkin itu sebabnya, yang perlu kita rawat setiap hari bukanlah pensil, melainkan cara berpikir. Bacalah lebih banyak daripada berbicara, amatilah lebih dalam daripada menghakimi, lalu tuliskan apa yang dipelajari. Pensil hanya akan habis seiring waktu, tetapi pikiran yang terus diasah akan melahirkan gagasan yang tetap hidup, bahkan ketika tangan yang menulis telah lama berhenti.
0 Comments