Tapi tenang, cerita ini bukan tentang blog. Ini tentang fase yang agak “menampar”—yang ternyata ada namanya: Dunning-Kruger Effect. Sama seperti blog. Fase yang awalnya saya merasa sudah cukup nyaman sebagai dosen. Mengajar? Suka. Sharing ilmu? Senang. Pengabdian masyarakat? Jalan terus. Kalau dilihat dari kinerja, bagian itu malah paling dominan. Tapi begitu masuk ke dunia publikasi ilmiah… di situlah mulai goyah. Dulu kalau bisa dibilang saya percaya diri sekali kalau menyebut saya mentornya teman2 untuk penelitian magister dan pendamping para doktor waktu masih bekerja disebuah yayasan pendidikan di Padang. Namun sekarang? bawa ketawa aja😅
Sebagai dosen, tuntutannya jelas: meneliti dan mempublikasikan. Baik di jurnal bereputasi maupun non-bereputasi. Masalahnya, saya tidak terbiasa di sana. Penelitian mungkin pernah dilakukan, tapi menuliskannya dalam format ilmiah yang “rapi, kaku, dan penuh aturan”—nah itu yang jadi tantangan. Apalagi sekarang sadar, ternyata kita juga perlu punya research roadmap, semacam peta jalan penelitian. Biar tidak asal jalan, tapi tahu arah. Dan jujur saja… saya belum punya itu.
bersama pembimbing dan rekan kuliah saat penelitian magisterBeberapa bulan terakhir, fase ini terasa berat. Kayak masuk ke “lembah” di grafik Dunning-Kruger—yang di gambar itu disebut the pit of pain. Dulu mungkin sempat merasa “oke juga ya”, tapi setelah benar-benar melihat standar dunia publikasi, rasanya malah down. Bingung mulai dari mana. Bahkan sempat kepikiran, “penelitian lama yang pernah dibuat itu sudah usang nggak ya kalau dipublikasi sekarang?” Padahal kalau dipikir lagi, secara substansi mungkin masih bisa dipertanggungjawabkan. Tapi rasa tidak percaya diri itu nyata.
Menariknya, justru di titik ini saya mulai merasa “tersadar”. Ternyata masalahnya bukan di luar, tapi di dalam diri sendiri. Kurangnya kebiasaan, kurangnya peta arah, dan mungkin juga ekspektasi yang terlalu tinggi di awal. Tapi justru dari sini mulai terlihat celah: apa yang bisa diperbaiki, apa yang bisa dibangun ulang. Pelan-pelan, mulai lagi. Bukan dari yang besar, tapi dari yang bisa dikerjakan.
Mungkin ini fase yang harus dilalui. Dari yang dulu “terlalu percaya diri”, turun ke fase “merasa tidak bisa apa-apa”, lalu pelan-pelan naik lagi dengan pemahaman yang lebih realistis. Dan kalau dipikir-pikir, mungkin ini bukan cuma saya yang mengalami.
Jadi pertanyaannya:
Apakah fase “jatuh dulu baru paham” ini memang bagian wajib dari proses belajar?
Apakah semua akademisi pernah melewati titik ragu seperti ini?
Dan yang paling penting… kita ini sedang benar-benar berkembang, atau hanya baru sadar bahwa selama ini belum cukup tahu?
0 Comments