Otak Atik Perguruan Tinggi demi Industri

Menyakitkan memang melihat arah yang terasa tidak konsisten. Di satu sisi, kita bicara tentang perluasan lapangan kerja dan peningkatan kualitas pendidikan tinggi. Tapi di sisi lain, justru muncul kebijakan menutup program studi yang dianggap “tidak menjual” bagi industri. Lalu sebenarnya apa yang ingin dicapai? Pendidikan tinggi itu mau dibentuk sebagai ruang pengembangan ilmu dan kapasitas manusia, atau sekadar penyedia tenaga kerja yang harus selalu menyesuaikan tren pasar?

Alih-alih memperkuat kualitas dan menyiapkan SDM yang benar-benar matang, yang terlihat justru seperti bongkar-pasang arah. Program studi lama ditutup, lalu dibuka yang baru—dengan tuntutan serba cepat. Pertanyaannya sederhana tapi krusial: ketika program baru itu dibuka, apakah benar-benar sudah siap? Siap dari sisi kurikulum, dosen, fasilitas, hingga kebutuhan jangka panjangnya? Atau hanya sekadar mengejar momentum tanpa fondasi yang jelas? Di saat yang sama, kita juga melihat program lain seperti MBG (program makan bergizi gratis) dan Kopder Merah Putih yang menyedot anggaran negara namun masih menyisakan banyak persoalan di lapangan. Ini menambah satu pertanyaan yang tidak kalah penting—apakah lapangan pekerjaan sudah benar-benar siap menampung lulusan yang terus didorong untuk “sesuai industri”, atau jangan-jangan industrinya sendiri masih belum siap?

Yang lebih mengkhawatirkan, jangan sampai arah ini berujung pada siklus yang sama—berpindah dari satu kebijakan ke kebijakan lain tanpa kejelasan tujuan. Dari kampus ke program-program lain, dari wacana ke wacana, tanpa benang merah yang kuat. Kalau begini terus, sebenarnya kita ini sedang membangun masa depan, atau hanya sibuk merespons keadaan tanpa arah? Pada akhirnya, pertanyaan yang sama kembali muncul: mau dibawa ke mana negara ini?

Post a Comment

0 Comments