Racun pertanian yang meracuni kantong petani

Racun dan Pupuk, Ooh Hargamu

Malam itu saya diskusi dengan mertua. Obrolannya sederhana, tapi makin lama terasa ganjil. Di toko pertanian, katanya, jenis pupuk dan racun itu banyak sekali—dari yang murah sampai yang harganya tidak masuk akal. Lalu dicoba. Yang murah, ketika ulat dimasukkan ke dalam tangki sprayer, tetap hidup. Sementara yang mahal, begitu disemprotkan, reaksinya langsung terlihat—ulat menggeliat dan mati. Tapi harganya? Bisa ratusan ribu hanya untuk botol kecil sekitar 10 ml. Di situ mulai muncul pertanyaan: ini sebenarnya apa yang kita hadapi?

Hal yang sama terjadi pada pupuk. Yang disebut “bagus” harganya tinggi, sementara yang murah sering diragukan efektivitasnya. Petani akhirnya berada di antara dua pilihan yang sama-sama berat: memilih yang mahal dengan harapan hasil optimal, atau yang murah dengan risiko tidak bekerja maksimal. Ini bukan lagi soal preferensi, tapi soal kemampuan bertahan. Kenapa harus ada jarak sejauh itu antara yang murah dan mahal? Kenapa tidak ada standar yang membuat semua punya kualitas yang layak digunakan di lapangan?

Lalu muncul kekhawatiran lain. Kalau yang “manjur” itu mahal, apakah bisa digunakan terus-menerus? Bagaimana dengan resistensi hama jika racun yang sama dipakai berulang? Apakah efektivitasnya akan turun? Dan kalau sudah begitu, apakah petani harus terus mengejar produk baru yang lebih mahal lagi? Pada akhirnya, ini bukan sekadar pilihan teknis, tapi berkaitan dengan sistem yang lebih besar—regulasi, distribusi, pengawasan, dan siapa yang sebenarnya mengendalikan kualitas serta harga di pasar.

Dari obrolan sederhana itu, ironi mulai terasa: petani dituntut menghasilkan yang terbaik, tapi alat untuk mencapainya penuh ketidakpastian. Jadi, sebenarnya standar itu ada atau tidak? Siapa yang memastikan kualitas di lapangan? Apakah petani harus terus bereksperimen dengan biaya sendiri? Sampai kapan pola ini berjalan? Dan kalau semua kembali ke petani untuk menanggung risiko, lalu peran sistem itu di mana? Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih besar muncul: mau dibawa ke mana negara ini?

Post a Comment

0 Comments