Pagi itu, gerobak es kelapa milik Pak Darso sudah buka seperti biasa. Tangan tuanya masih cekatan membelah kelapa, suara “plek!” terdengar jelas di antara hiruk pikuk jalan. Dulu, suara itu selalu diikuti antrean panjang. Hari ini, hanya satu dua orang lewat—itu pun tanpa berhenti.
“Sepi, Pak…” ucap Bu Siti pelan sambil menyusun gelas.
Pak Darso tidak menoleh. “Sepi itu sementara. Sing penting rasane ora berubah.”
Menjelang siang, dua anak muda berhenti sebentar. Mereka melihat, lalu berbisik.
“Di seberang aja yuk, lebih enak tempatnya…”
Mereka pergi begitu saja.
Tangan Pak Darso terdiam sesaat, lalu kembali bekerja seolah tidak terjadi apa-apa.
“Pak… mungkin kita bisa sedikit benahi…” kata Bu Siti hati-hati.
“Benahi apa?” potong Pak Darso. “Dari dulu yo ngene iki. Masih laku kok!”
Sore hari, es mulai mencair, kelapa yang dibelah tak lagi segar. Yang terjual tak sampai sepuluh gelas. Di seberang jalan, lampu mulai menyala. Musik pelan terdengar. Antrean justru panjang di sana.
Bu Siti menatap ke arah itu, lalu kembali ke Pak Darso.
“Pak… orang sekarang beda…”
Pak Darso meletakkan pisaunya sedikit keras.
“Yang beda itu orangnya, bukan jualan kita!”
Pak Darso akhirnya ikut menoleh ke seberang. Lama. Diam.
Matanya menyipit, mencoba melihat lebih jelas siapa yang ada di balik keramaian itu.
Lalu tiba-tiba…
ia melihat seseorang berdiri tidak jauh dari gerobaknya sejak tadi.
Seorang pemuda.
Bukan pelanggan.
Bukan orang lewat.
Hanya berdiri… memperhatikan. (Bersambung)
0 Comments