Petani dan Hasilnya yg Melimpah dibuang
Di era digital, foto dan video bisa menyebar dalam hitungan detik. Termasuk potret hasil pertanian yang dibuang atau dibiarkan begitu saja di lahan. Banyak yang kaget, seolah itu kejadian baru. Padahal di pasar tradisional, fenomena seperti ini sudah lama terjadi—hanya saja dulu tidak terekspos. Sekarang ketika viral, kita langsung bereaksi. Tapi pertanyaannya: apakah kita benar-benar paham apa yang sedang terjadi di balik itu?
Bukan tanpa alasan hasil panen bisa sampai dibuang. Faktor utamanya sering sederhana tapi berat: stok melimpah, harga jatuh, bahkan tidak ada harga sama sekali. Di titik tertentu, menjual justru merugikan karena biaya angkut, tenaga, dan distribusi lebih besar dari nilai jualnya—istilah lapangannya, “nombok”. Lalu muncul pertanyaan spontan: kenapa tidak dibagikan saja gratis? Kedengarannya masuk akal, bahkan terasa lebih “manusiawi”.
Tapi mekanisme pasar tidak sesederhana itu. Ketika barang langka, harga bisa stabil bahkan naik—itu yang justru menguntungkan petani. Sebaliknya, jika dibagikan secara masif, nilai produk bisa semakin jatuh dan efeknya bisa berkepanjangan. Di sinilah dilema itu muncul: antara empati sesaat dan dampak jangka panjang. Maka sebenarnya ini bukan semata urusan petani, tapi persoalan sistem—bagaimana rantai pasok dikelola, bagaimana stok dikendalikan, dan siapa yang bertanggung jawab menjaga keseimbangannya.
Di titik ini, peran pemerintah seharusnya hadir: mengelola kelebihan produksi, mendorong pengolahan agar tidak terbuang, membuka akses pasar, dan memastikan ada serapan yang jelas. Tapi realitanya, itu tidak semudah konsep di atas kertas. Banyak variabel di lapangan yang tidak bisa diselesaikan instan. Mungkin daripada hanya gusar melihat fenomena ini, ada satu pilihan lain: ikut terlibat, mencoba memahami, bahkan mencari solusi dari dalam. Karena seringkali, masalah yang terlihat sederhana dari luar ternyata jauh lebih kompleks saat benar-benar dijalani.
0 Comments